Repelita Jakarta - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel kecewa dengan pernyataan Kepala Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi terkait teror yang diterima media.
Sebelumnya, redaksi Tempo menerima teror berupa kiriman kepala babi pada Kamis, 20 Maret 2025, yang kemudian berlanjut dengan teror tikus yang dipenggal. Saat dimintai pernyataan, Hasan Nasbi dengan enteng menyebut agar kepala babi tersebut dimasak saja.
Reza menilai pernyataan tersebut mengandung dua makna. "Pernyataan Hasan Nasbi itu mengandung dua hal," ucapnya pada Senin, 24 Maret 2025. Ia menilai pernyataan Hasan menyepelekan harkat hidup manusia.
Menurutnya, kepala babi yang dikirimkan ke redaksi media merupakan bentuk intimidasi. Ia pun membayangkan bagaimana jika situasinya dibalik, yakni teror kepala babi dikirimkan ke Jokowi.
"Lantas, pantaskah negara abai terhadap dugaan perbuatan pidana semacam itu? Sekiranya kepala babi dikirim ke rumah Jokowi, apakah Hasan Nasbi akan mengeluarkan pernyataan serupa?" tegasnya.
Ia menyesalkan pernyataan Hasan yang dianggap bertolak belakang dengan sikap Prabowo. Diketahui, Prabowo sendiri sempat berusaha merangkul para pimpinan redaksi media ke Hambalang dalam upaya membangun hubungan baik dengan insan pers.
Menurut Reza, pertemuan tersebut mencerminkan betapa pentingnya media dan wartawan di mata Presiden.
Selain itu, ia juga menilai bahwa penyepelean teror kepala babi bukan hanya meremehkan intimidasi terhadap media, tetapi juga mengabaikan hak hidup binatang. Penyiksaan terhadap binatang sendiri merupakan pelanggaran Pasal 302 dan 540 KUHP.
"Perkataan Hasan Nasbi itu kontras betul dengan sikap Prabowo yang sangat menyayangi satwa. Kuda bahkan kucing disayang Prabowo," pungkasnya.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok