
Repelita Jakarta - Pola komunikasi pejabat publik masih menjadi perhatian masyarakat, terutama terkait efektivitas dan penerimaan pesan yang disampaikan.
Menurut Hendri Satrio, persepsi negatif terhadap pejabat muncul karena adanya rasa ketidakpercayaan dari rakyat.
"Ada keengganan bagi rakyat untuk curhat kepada pejabat, ada keengganan bagi rakyat untuk berkomunikasi dengan pejabat karena ada ketakutan enggak didengerin," ungkapnya.
Situasi ini menggambarkan tantangan besar bagi pejabat publik untuk membangun kembali kepercayaan dengan rakyat.
Sebagian masyarakat bahkan lebih memilih berbicara dengan figur publik seperti artis karena mereka dianggap lebih tanggap dan memberikan respons konkret.
"Menurut dia, ngomong sama artis itu bisa langsung konkret, sementara ngomong sama pejabat enggak akan didengerin," terang Hendri Satrio.
Hal ini memperlihatkan bahwa citra pejabat sebagai wakil rakyat masih membutuhkan perbaikan agar lebih dekat dengan kebutuhan dan harapan masyarakat.
Pentingnya komunikasi yang empatik juga menjadi sorotan. Ketika rakyat menghadapi masalah, mereka menginginkan respons yang memahami kondisi mereka, bukan komentar yang dianggap merendahkan atau kurang peka.
Kasus-kasus di mana pejabat memberikan pernyataan yang dianggap tidak relevan atau menyakitkan dapat memperburuk hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Oleh karena itu, empati dan etika menjadi kunci utama dalam komunikasi pejabat agar pesan yang disampaikan tidak hanya tepat, tetapi juga menenangkan dan membangun.
Hendri mengingatkan tentang pentingnya mengadopsi pendekatan empati dalam komunikasi publik.
Pejabat sebaiknya "memakai sepatu orang lain" sebelum berbicara, artinya mencoba memahami kondisi masyarakat sebelum memberikan komentar.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok