Repelita Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI Aboe Bakar Alhabsyi memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Perwakilan Rakyat pada Selasa siang, 14 April 2026, terkait ucapannya yang menyebut ulama di Madura terlibat peredaran narkoba dalam rapat bersama BNN pada Selasa, 7 April 2026 lalu.
Aboe tiba di Gedung DPR pukul 12.12 WIB dan keluar dari ruang MKD pada pukul 13.55 WIB setelah memberikan penjelasan selama kurang lebih satu jam empat puluh tiga menit.
ADVERTISEMENT
Jadi panggilan ini saya penuhi dengan baik karena saya merasa bertanggung jawab atas apa yang saya katakan, ucap Aboe selepas memberikan penjelasan di hadapan majelis.
Ia kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di Jawa Timur, khususnya Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, hingga Madura, termasuk kepada para ulama dan tokoh masyarakat setempat.
Menurut Aboe, permintaan maaf itu disampaikan karena ia mengakui telah memilih kosa kata yang keliru sehingga ucapannya menjadi viral di media sosial dan menimbulkan polemik.
Minta maaf sedalam-dalamnya karena menurut saya memang bahasa saya terlalu globalisir dan salah, sekali lagi saya minta maaf, kata dia yang sempat meneteskan air mata.
Aboe mengklaim bahwa ucapannya tidak bermaksud untuk menyudutkan ulama maupun pondok pesantren, melainkan semata-mata ingin menunjukkan keprihatinan atas peredaran narkoba di lingkungan pesantren.
Ia mengajak semua pihak termasuk lembaga pendidikan keagamaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan, namun cara penyampaiannya yang kurang tepat menimbulkan multitafsir.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Aboe berupaya mendatangi semua tokoh agama yang kecewa atas ucapannya untuk menegaskan bahwa ulama dan pesantren adalah pilar utama dalam menjaga moral bangsa.
Pemanggilan Aboe ini tertuang dalam surat MKD nomor 148/PW.09/05/2026 yang dikeluarkan pada Senin, 13 April 2026 yang ditandatangani oleh Wakil Ketua MKD DPR Imron Amin.
Muasal perkara ini adalah saat Aboe menghadiri rapat Komisi III dengan BNN pada Selasa, 7 April 2026, dimana ia menyatakan kekagetannya karena ulama di Madura mulai terlibat narkoba.
Contoh Madura, saya itu kaget ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, pesantren-pesantren itu juga, ternyata ada cuan di situ, cuan-nya banyak bukan dikit, kata Aboe dalam rapat tersebut.
Ia mengaku khawatir hal itu disebabkan oleh campur tangan pebisnis-pebisnis besar yang memiliki posisi-posisi strategis di masyarakat.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok