Repelita Jakarta - Ketua Pergerakan Indonesia untuk Semua Ade Armando membeberkan sebuah fakta sejarah politik menarik mengenai perjalanan karier Gibran Rakabuming Raka sebelum resmi menduduki posisi sebagai wakil presiden.
ADVERTISEMENT
Menurut penuturan akademisi senior tersebut, sang putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo pada awalnya sama sekali tidak memiliki ketertarikan personal untuk ikut berkompetisi dalam bursa Pilpres.
Hal itu didasari atas pertimbangan etis dari Gibran yang kala itu dinilai masih fokus serta berkomitmen kuat untuk menyelesaikan seluruh tanggung jawab birokrasinya selaku Wali Kota Solo.
Pernyataan mendalam seputar dinamika internal koalisi tersebut diungkapkan secara blak-blakan oleh Ade Armando sewaktu menghadiri acara bincang politik Bola Liar yang dikutip pada hari Senin, 26 Oktober 2026.
Melalui forum diskusi tersebut, ia menjelaskan bahwa rencana awal dari sang wali kota sebenarnya murni ingin menuntaskan mandat kepemimpinan di tingkat daerah demi mematangkan jam terbang birokrasi.
Langkah taktis itu sengaja dipertimbangkan secara matang sebelum dirinya memantapkan diri untuk melangkah ke panggung politik yang lebih tinggi, salah satunya dengan membidik peluang dalam Pilgub Jawa Tengah.
Namun, konstelasi politik nasional dilaporkan bergerak sangat cepat hingga akhirnya mengubah pendirian awal Gibran yang semula kukuh ingin bertahan memimpin roda pemerintahan di Kota Solo.
Kesediaan sang tokoh muda untuk menerima mandat sebagai pendamping Prabowo Subianto dilaporkan terjadi setelah adanya permohonan yang dilayangkan secara berulang kali dari pihak elit koalisi.
“Dengan hormat saya sepenuhnya kepada semua pihak, Anda pernah dengar kan cerita bahwa dan ini yang menyampaikan orang-orang Prabowo sendiri,” kata Ade Armando di acara Bola Liar dikutip Senin (26/10).
“sebetulnya ketika itu sudah empat kali Mas Gibran diminta oleh Prabowo melalui Pak Jokowi untuk menjadi calon wakil presiden,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ade Armando menceritakan bahwa keputusan final dari Gibran untuk bersedia terjun ke kancah kepemimpinan nasional baru luluh setelah adanya ajakan demi membantu perjuangan politik.
“Karena itulah untuk kelima kalinya ketika itu dikatakan tolonglah kalau begitu bantulah ini Pak Prabowo kata Pak Jokowi,” ujar Ade.
Melalui untaian penjelasan utuh tersebut, terungkap fakta historis bahwa komitmen awal Gibran untuk menuntaskan masa bakti di daerah sempat menjadi pertimbangan utama sebelum akhirnya menerima pinangan politik nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok