Repelita [Jakarta] - Pengamat politik Adi Prayitno menafsirkan pidato Presiden Prabowo Subianto terkait pengalaman pribadinya saat menelan kekalahan dalam pemilihan presiden sebagai strategi meredam eskalasi konflik nasional.
Dalam forum Sarasehan Kebangsaan yang menampilkan ribuan civitas akademika di Jakarta Convention Center pada Jumat, 26 Juni 2026, Prabowo menekankan pentingnya menjaga stabilitas pemerintahan.
ADVERTISEMENT
Adi menilai pesan tersebut merupakan ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk menanggalkan rivalitas politik demi menciptakan suasana bernegara yang guyub dan kolaboratif.
Kalau kita mendengar pidato politik Prabowo, ini sepertinya sikap politik dari Prabowo yang ingin membangun negara dengan guyub, harus kerja sama dan merangkul semua kalangan, ujar Adi melalui kanal YouTube pribadinya, Rabu, 1 Juli 2026.
Direktur Parameter Politik Indonesia tersebut berpendapat bahwa narasi Prabowo bertujuan untuk menetralisir manuver pihak tertentu yang berupaya memicu gejolak sosial.
“Pernyataan Prabowo itu sebenarnya ingin menurunkan tensi politik yang mungkin di balikan ada manuver-manuver tertentu dari pihak-pihak yang berpotensi menimbulkan gejolak dan instabilitas politik,” tegas Adi.
Ia memperkirakan masyarakat menangkap sinyal adanya kaitan antara pidato tersebut dengan beragam aksi refleksi dan resistensi terhadap kebijakan pemerintah yang saat ini muncul.
“Publik melihat ada konteks yang relevan, yaitu misalnya ada indikasi, tuduhan, dan dugaan yang mengarah kepada partai politik tertentu yang kalah dalam pemilu, yang turut terlibat menggerakkan aksi demonstrasi, terlibat dalam proses mobilisasi massa, melakukan perlawanan dan resistensi terhadap pemerintah, termasuk menggaungkan isu-isu seperti menolak program Makan Bergizi Gratis, menghentikan Koperasi Desa Merah Putih, dan seterusnya,” urainya.
Adi menambahkan bahwa Prabowo ingin menegaskan bahwa kekalahan dalam kontestasi pemilu adalah fase wajar yang seharusnya tidak berlarut-larut menjadi ajang kegaduhan.
"Prabowo bilang kalah pemilu pasti ada kecewaan. Tapi sampai kapan yang kalah bikin kegaduhan, bikin kontroversi," ujarnya.
Ia menyimpulkan bahwa Presiden mendorong agar setiap perbedaan pandangan politik disalurkan melalui koridor demokrasi konstitusional pada pemilu berikutnya pada tahun 2029.
"Prabowo ingin mengajak semua kalangan, semua pihak, termasuk partai dan mungkin oknum tertentu yang tidak suka, tidak senang, dan sangat tidak setuju dengan program yang dimiliki Prabowo. Oke, tidak apa-apa. Tapi ketidaksukaan itu harus disalurkan nanti dengan berkompetisi di 2029," tutupnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok