Berita, Timur Tengah

Ahmad Vahidi, Jenderal Garis Keras Iran yang Berani Tantang Trump “Silakan Lanjutkan Perang”, Kini Jadi Penentu Sikap Teheran di Pucuk IRGC

Repelita.id

26 May 2026 13:21 WIB

Ahmad Vahidi, Jenderal Garis Keras Iran yang Berani Tantang Trump “Silakan Lanjutkan Perang”, Kini Jadi Penentu Sikap Teheran di Pucuk IRGC
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Kepemimpinan Jenderal Ahmad Vahidi sebagai kepala Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) dinilai menjadi faktor utama di balik keteguhan sikap Teheran dalam menghadapi tekanan Amerika Serikat selama masa konflik.

Analisis geopolitik menunjukkan bahwa Vahidi telah menerapkan strategi garis keras, termasuk tetap menutup Selat Hormuz dan menolak tuntutan penghentian pengayaan uranium yang diajukan Washington.

ADVERTISEMENT

Sejak menggantikan Jenderal Mohammad Pakpour pada Maret 2026, sosok Vahidi dianggap sebagai pemegang kendali penuh atas kebijakan militer maupun arah negosiasi Iran.

Pengaruh besarnya semakin menguat pasca kegagalan perundingan perdamaian di Islamabad, Pakistan, pada April lalu yang tidak menghasilkan titik temu.

“Dia berpengaruh, dan dia bagian dari sebuah sistem,” ujar Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ahad (24/5/2026).

Vaez menambahkan bahwa dalam setiap pengambilan keputusan strategis di tingkat elit, Vahidi memiliki peran yang sangat dominan.

“Keputusan-keputusan dibuat berdasarkan sebuah cara konsensus dan tidak diragukan Vahidi memiliki suara yang sangat keras dalam ruang rapat,” kata Vaez.

Latar belakang Vahidi yang dikenal radikal pun dipertegas oleh Danny Citrinowicz, mantan kepala intelijen militer Israel, yang menyebutnya sangat berkomitmen pada prinsip Revolusi Islam.

“Anda tidak bisa setuju pada sesuatu tanpa melalui persetujuan dia,” kata Citrinowicz.

“Dia di antara orang-orang yang bilang 'jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, jika Trump menginginkan kembali berperang, silakan',” ujar Citrinowicz, menambahkan.

Di sisi lain, proses perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran dikabarkan belum mencapai kesepakatan final meskipun telah disusun kerangka kerja umum.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan melalui platform Truth Social pada Sabtu bahwa draf perjanjian sedang dalam tahap penyelesaian akhir.

“Sebuah kesepakatan sebagian besarnya telah dinegosiasikan, tetapi masih perlu finalisasi antara Amerika Serikat, Republik Islam Iran, dan sejumlah negara lain,” kata Trump.

Pihak Teheran melalui kantor berita Tasnim pada Minggu (24/5/2026) mengungkapkan bahwa negosiasi mencakup penghentian perang di berbagai front dan pencabutan sanksi minyak.

Selain itu, Iran menuntut diakhirinya blokade terhadap pelabuhan mereka sebagai syarat mutlak sebelum melakukan perubahan pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung