Berita, Internasional

Aksi Protesl Deras, Presiden AS Dihujat Rakyat Sendiri, "Singkirkan Trump"

Repelita.id

29 March 2026 08:41 WIB

Aksi Protesl Deras, Presiden AS Dihujat Rakyat Sendiri, "Singkirkan Trump"
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus dihujat oleh rakyatnya sendiri melalui aksi protes deras yang digelar di berbagai kota di seluruh negeri pada Sabtu, 28 Maret 2026, dengan ribuan warga yang meneriakkan yel-yel singkirkan Trump.

Alih-alih mendapat dukungan atas kebijakannya menyerang Iran yang memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Trump justru harus menghadapi gelombang demonstrasi yang semakin meluas di tengah rakyatnya sendiri yang kecewa.

ADVERTISEMENT

Aksi demonstrasi yang terencana dengan baik ini terjadi di berbagai kota besar maupun kecil, dengan para peserta turun ke jalan untuk mengecam kebijakan deportasi imigran serta sejumlah kebijakan lain yang dinilai kontroversial oleh masyarakat.

Lebih dari 3.200 aksi direncanadi di seluruh 50 negara bagian, dan menariknya sekitar dua pertiga kegiatan justru berlangsung di kota-kota kecil, meningkat hampir 40 persen dibanding mobilisasi pertama pada Juni tahun lalu.

Aksi besar tercatat di sejumlah kota utama seperti New York City, Dallas, Philadelphia, dan Washington, dengan ribuan warga yang memadati jalan-jalan utama sambil membawa poster bertuliskan singkirkan Trump.

Di Minnesota yang menjadi salah satu pusat kebijakan imigrasi Trump, demonstrasi besar digelar di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat negara bagian di Saint Paul dengan peserta yang sangat antusias meneriakkan yel-yel perlawanan.

Sejumlah peserta membawa poster bergambar Renee Good dan Alex Pretti, warga Amerika Serikat yang tewas dalam penindakan petugas imigrasi federal di Minneapolis tahun ini, sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan Trump.

Gubernur Minnesota, Tim Walz, menyebut para demonstran sebagai representasi nilai-nilai terbaik Amerika yang berani bersuara melawan otoritarianisme dan ketidakadilan.

Sementara itu, Senator Amerika Serikat, Bernie Sanders, juga hadir dalam aksi tersebut dan menyuarakan penolakan terhadap arah kebijakan negara yang dinilai semakin otoriter di bawah pemerintahan Trump.

Di sisi lain, Komite Kongres Republik Nasional mengkritik aksi tersebut dan menyebutnya sebagai demonstrasi yang sarat dengan kepentingan politik semata untuk menjatuhkan presiden.

Sementara di New York, puluhan ribu orang memadati Manhattan hingga membentang lebih dari 10 blok, menciptakan lautan manusia yang memenuhi jalan-jalan ibu kota bisnis Amerika dengan spanduk bertuliskan singkirkan Trump.

Aktor Robert De Niro yang turut menjadi penyelenggara aksi menilai Trump sebagai ancaman serius bagi negara, dengan menyebutnya sebagai ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan warga Amerika.

Tak hanya itu, di Washington massa berkumpul di National Mall sambil membawa spanduk-spanduk pro-demokrasi dan anti-Trump yang memenuhi area taman nasional tersebut dengan teriakan singkirkan Trump.

Sekelompok lansia di Maryland turut berpartisipasi dalam aksi ini dengan membawa pesan-pesan seperti lawan tirani dan singkirkan Trump sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan negara.

Di Dallas, aksi sempat diwarnai ketegangan antara demonstran dan kelompok kontra sehingga beberapa insiden bentrokan kecil terjadi hingga polisi melakukan penangkapan terhadap pihak yang memprovokasi.

Namun tidak semua aksi berjalan damai, di Los Angeles dua orang ditangkap setelah menyerang petugas federal sementara beberapa lainnya diamankan karena tidak membubarkan diri saat diminta aparat.

Aparat juga menggunakan gas air mata setelah massa melempar benda ke arah gedung federal, menunjukkan ketegangan yang cukup tinggi antara demonstran dan aparat keamanan di tengah aksi protes deras ini.

Aksi yang dikenal dengan nama No Kings ini kali ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi politik menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada bulan November mendatang yang semakin memanas.

Para penyelenggara mengklaim terjadi lonjakan partisipasi yang signifikan termasuk di negara bagian yang selama ini dikenal pro-Republik seperti Idaho, Wyoming, Montana, dan Utah, menunjukkan meluasnya ketidakpuasan terhadap Trump.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung