Repelita Jakarta - Aktivis HAM Haris Azhar melontarkan sinyal waspada tentang adanya operasi senyap yang bergerak di balik riuhnya wacana politik termasuk isu pelengseran Presiden Prabowo Subianto yang belakangan ramai diperbincangkan publik.
Menurut Haris, konstitusi memang membuka ruang pemakzulan terhadap presiden maupun wakil presiden namun realitas politik tak selalu bernuansa teks hukum.
ADVERTISEMENT
Jika presiden dihentikan maka secara otomatis wakil presiden akan naik menggantikannya sesuai amanat undang-undang.
Namun dinamika yang berkembang hari ini menunjukkan arah wacana yang bergeser dari semula menyasar wakil presiden kini justru mengarah ke pucuk kekuasaan tertinggi.
Dalam pengamatannya, kondisi politik di lingkar kekuasaan terlihat tenang di permukaan dengan koalisi tampak kokoh nyaris tanpa gejolak terbuka.
Namun justru di situlah ia mengibaratkan bahwa udara yang tenang sering menyimpan arus bawah yang tidak kasat mata.
“Kalau ada yang mengendap, itu biasanya sedang menunggu momentum,” demikian pesan yang ingin disampaikan Haris.
Ia menilai masyarakat sipil sejatinya tidak memiliki kapasitas untuk menjatuhkan presiden karena peran mereka lebih pada mengawali isu dan membangun narasi berbasis data.
Sebaliknya, potensi manuver justru datang dari masyarakat politik yaitu kelompok elit dengan jaringan kekuasaan, modal, dan kepentingan yang lebih besar.
Haris juga menyinggung fenomena planting issue yakni upaya menanam isu secara sistematis hingga membesar di ruang publik.
Isu-isu kecil menurutnya bisa dipoles, diulang, dan dipelihara hingga membentuk persepsi seolah-olah krisis besar sedang terjadi.
Di titik inilah publik sering kali kesulitan membedakan antara fakta, framing, dan agenda tersembunyi dari pihak-pihak tertentu.
Lebih jauh lagi ia menyoroti tanggapan negara terhadap kritik yang dinilai kurang proporsional.
Alih-alih membuka ruang dialog dan menguji data yang dipublikasikan, energi justru habis untuk menanggapi kritik secara reaktif.
Padahal menurut Haris, kritik adalah bahan baku penting untuk memperbaiki kebijakan dan arah pemerintahan.
Di sisi lain, tekanan ekonomi global, fluktuasi pasar, hingga kebijakan domestik yang dianggap kontroversial juga memperkeruh suasana politik.
Kombinasi faktor-faktor ini jika tidak dikelola dengan hati-hati berpotensi menjadi bahan bakar bagi dinamika politik yang lebih besar.
Namun Haris menegaskan bahwa semua yang berkembang saat ini masih berada di wilayah spekulasi politik.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terseret arus narasi yang belum tentu memiliki dasar yang kuat.
“Demokrasi itu hidup ketika warga aktif, bukan ketika isu dimainkan tanpa arah,” menjadi benang merah dari pernyataan Haris Azhar.
Di tengah geliat politik yang terus bergerak, bukan hanya apa yang tampak di permukaan yang perlu dibaca tetapi juga gerakan-gerakan halus yang bekerja diam-diam di baliknya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok