Berita, Timur Tengah

Aktivis: Ketegangan AS-Iran Berpotensi Lanjut ke Perang Ketahanan, Warga Iran Lebih Tegar

Repelita.id

30 April 2026 22:28 WIB

Aktivis: Ketegangan AS-Iran Berpotensi Lanjut ke Perang Ketahanan, Warga Iran Lebih Tegar
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Aktivis Pro Palestina, Muhammad Husein, menyebut bahwa ketegangan geopolitik yang masih terjadi antara Amerika Serikat dengan Iran berpotensi berlanjut ke fase perang ketahanan atau war of resilience.

Pasalnya, nasib kelanjutan perundingan damai putaran kedua antara Washington dan Teheran masih belum jelas karena adanya tarik ulur terkait dua isu krusial yaitu program nuklir Iran dan status pengelolaan Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

"Kalau pun perang berlanjut setelah ini, maka kita akan menyaksikan sesuatu yang namanya war of resilience," ucap Muhammad Husein dalam program Interupsi bertajuk 'Saling Adu Kekuatan, Perang AS-Iran Makin Genting' yang disiarkan di sebuah stasiun televisi nasional pada Kamis, 30 April 2026.

Husein menambahkan bahwa dalam analisisnya terdapat dua variabel utama yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam perang ketahanan tersebut.

Kedua variabel yang sangat menentukan itu adalah kekuatan militer dari masing-masing negara serta tingkat ketegaran atau resilience dari warga sipilnya.

"Dalam perang ketegaran ini ada dua variabel utama yang menentukan kemenangan atau kekalahan. Pertama, kekuatan militer, kedua ketegaran warganya, persis seperti yang terjadi di Gaza melawan Israel," tuturnya menjelaskan.

Dia menyebut bahwa saat ini kekuatan militer Amerika Serikat dan Iran secara teknis berada pada posisi yang sama-sama kuat dan sulit untuk saling mengungguli.

Bahkan kedua belah pihak yang saling bertikai saat ini sama-sama mengklaim telah meraih kemenangan besar dalam perang sebelum gencatan senjata resmi dimulai.

Namun menurut pengamatannya, terdapat perbedaan yang sangat mencolok dari sisi ketegaran warga negara terhadap situasi perang yang berkepanjangan.

"Viral di media sosial misalnya, seorang perempuan Amerika yang menangis berteriak di dalam mobil ketika (harga) bahan bakar mulai naik, dan juga banyak hal yang intinya warga Amerika tidak sanggup karena selama ini hidupnya stabil," ucapnya memberi contoh.

"Sementara warga Iran tidak ada satu pun yang meminta pemerintah Iran untuk menuntut menghentikan perang. Mayoritas masyarakat Iran yang selama ini berada di belakang pemerintah Iran dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)," tuturnya membandingkan.

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang pertama kali dilancarkan pada tanggal 28 Februari lalu telah menewaskan lebih dari 3.300 orang sebelum gencatan senjata diumumkan.

Gencatan senjata selama dua minggu pertama tersebut secara resmi diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada tanggal 7 April lalu.

Menjelang berakhirnya batas waktu gencatan senjata, Trump mengumumkan perpanjangan tanpa batas waktu atas permintaan dari Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan kepala militer negara tersebut Jenderal Asim Munir.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung