Repelita [Jakarta] - Sorotan tajam kembali diarahkan oleh tokoh politik senior nasional Amien Rais kepada mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Jokowi Widodo melalui sebuah rekaman video yang disebarluaskan secara luas melalui akun Instagram resmi miliknya di https://www.instagram.com/amienraisofficial pada hari Kamis tanggal 4 Juni 2026 ini.
Dalam tayangan digital tersebut pendiri Partai Ummat ini secara mendalam menguraikan sebuah pandangan filosofis mengenai ketetapan hukum alam atau konsep sunnatullah yang mengatur jalannya kehidupan fana seluruh makhluk di dunia.
ADVERTISEMENT
"Sunnatullah, atau law nature, atau hukum alam, itu pada prinsipnya mengatakan bahwa seluruh eksistensi atau wujud apapun di dunia yang fana ini, pasti berakhir, hilang, punah," kata Amien Rais dalam video tersebut, dikutip Kamis (4/6/2026).
Mantan Ketua MPR RI tersebut kemudian memberikan sebuah contoh konkret dengan mengulas kembali lembaran sejarah kepemimpinan Presiden ke-2 Republik Indonesia Soeharto demi menegaskan bahwa sebuah kekuasaan politik tidak akan pernah abadi.
"Pak Harto, presiden paling lama berkuasa dalam sejarah Indonesia selama 32 tahun akhirnya harus turun panggung secara tragis," ujarnya.
Selesai mengulas sejarah masa lalu tokoh politik gaek tersebut segera mengalihkan fokus pembicaraan untuk melayangkan kritik berkecamuk yang menyasar langsung pada kebijakan serta ambisi politik kepemimpinan periode lalu.
"Mas Kowi pernah menjelang berakhirnya kekuasaan kepresendenannya pada Oktober 2024, mencoba tambah satu periode ketiganya," ucapnya.
Menurut pandangan subjektif dari tokoh reformasi tersebut momentum perpanjangan masa jabatan kepresidenan itu sengaja diembuskan di tengah situasi krisis kesehatan publik global yang melanda seluruh negeri beberapa tahun silam.
"Saat wabah Covid 19 menyebabkan pemerintahannya tidak produktif dan lain-lain. Otak dan hatinya yang gelap membisikinya, supaya Jokowi bisa nambah lima tahun lagi," tuturnya.
Lebih lanjut Ketua Majelis Syura Partai Ummat tersebut mengungkapkan adanya dugaan pergerakan sistematis di parlemen kala itu yang diupayakan demi memuluskan rencana amendemen konstitusi tertinggi negara.
"Untuk itu diupayakan agar MPR dapat melakukan sidang istimewa untuk mengubah Pasal 7 UUD 1945," katanya.
Ungkapan kekecewaan mendalam yang dirasakan oleh sang politikus senior akhirnya memuncak hingga dirinya melontarkan sebuah sebutan yang sangat keras dan menohok mengenai integritas personal dari mantan Wali Kota Solo tersebut.
"Mas Kowi memang manusia lamis, alias manusia hipokrit, omongannya tidak bisa dipegang, tidak bisa dipercaya," tegasnya.
Dirinya menilai bahwa sebagai seseorang yang dibesarkan dalam kultur tradisi Jawa yang kental sudah sepatutnya menjunjung tinggi nilai kejujuran serta keselarasan antara perkataan dengan perbuatan nyata sehari-hari.
"Sebagai wong Solo, dia seharusnya paham bahwa berbohong itu watak yang buruk," ujarnya.
Amien Rais memandang bahwa hasrat yang sangat besar terhadap kedudukan politik telah membutakan pandangan jernih sehingga memicu lahirnya sikap psikologis yang tidak pernah merasa cukup atas segala pencapaian karir.
"Syahwat kekuasaannya menyebabkan dirinya menjadi manusia megalomaniak yang tidak pernah puas dengan karunia yang Maha Esa dan Maha Kuasa," katanya.
Tidak berhenti sampai di situ tokoh pergerakan ini juga mengungkit kembali kontroversi keputusan hukum di lembaga peradilan konstitusi negara yang meloloskan jalan politik bagi sang putra sulung.
"Kemudian langkah edan yang sudah dilakukan Kowi, antara lain, memaksa Mahkamah Konstitusi (MK)," ucapnya.
Ia juga menyoroti keaktifan mantan kepala negara tersebut dalam merancang berbagai agenda kunjungan kerja ke berbagai wilayah di tanah air yang dinilai bermuatan politis tersembunyi.
"Katanya menyapa masyarakat dan mengenalkan PSI yang diketuai Kaesang Pangarep, anak bungsu Mas Kowi," tuturnya.
Aktivitas turun ke daerah tersebut dipandang sangat bertolak belakang dengan pernyataan serta janji awal yang pernah diucapkan ke publik setelah masa bakti jabatannya sebagai presiden berakhir.
"Setelah selesai jadi presiden dua periode, kan janjinya mau rakyat biasa dan jadi aktivis lingkungan, tetapi tentu janji tinggal janji," sindirnya.
Pada bagian penutup pernyataan video di media sosialnya tokoh senior tersebut menyitir pandangan dari Buni Yani mengenai dinamika penolakan dari sebagian lapisan masyarakat sipil terhadap agenda keliling daerah tersebut.
"Kata Buni Yani, banyak rakyat yang menolak Jokowi keliling Indonesia, cuma bikin gaduh," imbuhnya.
Ia mengakhiri ulasannya dengan menyampaikan kembali kalimat sindiran dari kolegonya tersebut yang mengungkit perihal keabsahan dokumen pendidikan masa lalu yang sempat memicu perdebatan panjang di ruang publik nasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok