Berita, Nasional

Amien Rais Sebut Manuver Jokowi Picu People Power Hingga Sorot Prabowo Tak Ganti Kapolri-Panglima TNI

Repelita.id

09 September 2026 20:51 WIB

Amien Rais Sebut Manuver Jokowi Picu People Power Hingga Sorot Prabowo Tak Ganti Kapolri-Panglima TNI
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat yakni Amien Rais kembali melontarkan kritik keras terhadap mantan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Ia menilai sejumlah manuver politik yang dilakukan Jokowi berpotensi besar memicu gejolak di tengah masyarakat.

Politisi senior tersebut bahkan secara terbuka mengaitkan dinamika tersebut dengan kemungkinan munculnya gerakan perlawanan rakyat massal seperti peristiwa pada tahun 1998 silam.

ADVERTISEMENT

"Saya ingin mengingatkan Mas Jokowi tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya," ucap Amien Rais, dikutip hari Rabu tanggal 9 September 2026.

Menurut pengamatannya, Jokowi merupakan figur politik yang dinilai sangat sulit untuk melepaskan diri dari lingkaran kekuasaan negara.

Ia berpandangan bahwa mantan orang nomor satu di Indonesia itu masih terus berupaya mempertahankan pengaruh politiknya kendati sudah tidak lagi menduduki kursi kepresidenan.

"Jokowi adalah sosok politik yang haus dan lapar kekuasaan tanpa batas," ujar Amien dalam kesempatan yang sama.

Ia menduga kuat bahwa berbagai ambisi politik tersebut juga berkaitan erat dengan upaya pengamanan masa depan kekuasaan keluarga Jokowi ke depan.

"Nah Jokowi memegang teguh ilmu pokoknya, pokoknya saya harus tetap bisa mengendalikan Indonesia, pokoknya anak saya harus berada di puncak piramid kekuasaan," katanya.

Dalam kesempatan itu, Amien turut menyoroti pernyataan kontroversial Budi Arie Setiadi mengenai wacana percepatan pelaksanaan Pemilihan Presiden tanpa harus menunggu hingga tahun 2029.

Bagi Amien, pernyataan semacam itu sama sekali tidak bisa dipandang sebagai sebuah ucapan biasa di tengah situasi politik nasional yang sedang berjalan saat ini.

"Nah omongan Budi Arie yang tidak begitu cerdas didampingi Jokowi bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029, saya merasa itu sangat mengerikan," ujar Amien.

Ia menambahkan bahwa Budi Arie memang telah menyampaikan permohonan maaf setelah pernyataannya menuai gelombang kritik serta sorotan tajam publik.

Kendati demikian, Amien menilai langkah permintaan maaf tersebut tidak serta-merta mampu menghapus kecurigaan besar yang telanjur tumbuh di benak masyarakat.

"Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi," tuturnya.

Amien lantas memperkirakan bahwa situasi politik nasional dapat berkembang di luar kendali apabila segala bentuk rekayasa politik tersebut terus dipaksakan.

"Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin keruh akibat political engineering para pendukung Jokowi yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali," jelasnya.

Ia kemudian mengingatkan kembali potensi lahirnya gerakan massa berskala besar yang menyerupai aksi unjuk rasa akbar pada akhir masa pemerintahan Presiden Soeharto.

"Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar," ungkap Amien.

Perlu dicatat bahwa istilah gerakan massa serupa pernah pula ia gaungkan dalam percaturan politik nasional pada pelaksanaan kontestasi pemilihan presiden tahun 2019 lalu.

Kala itu, ia menegaskan bahwa seruan tersebut sama sekali tidak bermakna sebagai bentuk pertempuran fisik atau perkelahian terbuka antarsesama warga negara Indonesia.

Sorotan tajam Amien nyatanya tidak berhenti pada sosok Jokowi semata, sebab ia turut mempertanyakan sikap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saat ini.

Ia mempertanyakan alasan mengapa Presiden Prabowo yang telah memegang kendali pemerintahan selama hampir dua tahun belum juga melakukan pergantian pimpinan tertinggi Polri dan TNI.

"Pertanyaan besar dan mendasar saya adalah mengapa Presiden Prabowo yang sudah hampir dua tahun berkuasa tidak berani mengganti Kapolri dan Panglima TNI," cetus Amien.

Ia menduga kuat bahwa kedua petinggi lembaga penegak hukum dan pertahanan negara tersebut masih memiliki ikatan loyalitas personal yang sangat kuat kepada Jokowi.

"Dua tokoh kita ini menurut saya, ya saya bisa keliru, lahir batin hidup mati demi Jokowi," ujarnya mempertegas analisis politik yang ia sampaikan.

Amien menilai kelambanan dalam melakukan perombakan pejabat strategis tersebut dapat menjadi salah satu pemicu utama tetap bercokolnya pengaruh sang mantan presiden.

Ia menegaskan bahwa Jokowi hingga detik ini belum menunjukkan adanya indikasi nyata untuk menghentikan berbagai rangkaian permainan politik tingkat tinggi.

"Apakah Jokowi sudah edan? Jokowi tidak edan tetapi nekat dan kenekatannya belum sampai titik saturasi. Titik jenuh belum, masih terus-terus berpencaksilat politik yang berbahaya buat kelanjutan Indonesia," pungkasnya.

Meski melayangkan kritik yang tergolong sangat pedas, Amien tetap menyatakan sikap terbuka serta menghargai setiap pihak yang memiliki sudut pandang berbeda.

Ia menutup pandangannya dengan menyerukan agar sistem demokrasi tetap dijaga, sembari mengusulkan agar agenda pembersihan pengaruh tertentu dijadikan prioritas kebangsaan.

"Kita hidupkan terus demokrasi, tetapi dijokowisasi harus kita jadikan agenda politik demi masa depan bangsa dan negara Indonesia," tutup Amien Rais.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung