Repelita Jakarta - Kritik tajam dari kalangan pengamat politik mulai bermunculan menyikapi gaya komunikasi publik yang diperlihatkan oleh Pemimpin Nasional Prabowo Subianto dalam beberapa waktu terakhir.
Gaya artikulasi lisan sang presiden dinilai memerlukan evaluasi mendalam agar tetap selaras dengan etika ketatanegaraan yang berlaku bagi seorang pemegang mandat tertinggi.
ADVERTISEMENT
Sorotan ini mencuat sebagai respons langsung atas pernyataan kontroversial dari kepala negara yang menggunakan diksi kurang patut saat mengomentari eksistensi para akademisi tanah air.
Ucapan yang dinilai kurang elok tersebut dilontarkan dalam sebuah agenda seremonial partai politik yang berlangsung pada pertengahan bulan September tahun ini.
Analis politik Andi Yusran memberikan pandangan kritis bahwa seorang pemimpin tertinggi mengemban tanggung jawab ganda yang sangat sakral dalam sistem ketatanegaraan.
Ia menjelaskan bahwa figur nomor satu di republik ini tidak hanya bertindak sebagai dirigen penggerak roda pemerintahan, melainkan juga memikul status sakral selaku kepala negara.
Oleh karena itu, setiap narasi lisan yang diproduksi dan disampaikan kepada khalayak luas idealnya mencerminkan kewibawaan penuh dari representasi identitas sebuah bangsa.
“Prabowo mesti memperbaiki diri dalam bertutur, karena ia adalah kepala negara, tidak sekadar sebagai kepala pemerintahan,” kata Andi kepada RMOL, Selasa, 22 September 2026.
Lebih lanjut, Andi Yusran menguraikan bahwa status kepemimpinan negara membawa konsekuensi logis berupa melekatnya simbol kehormatan serta marwah institusional yang sangat tinggi.
Berangkat dari prinsip tersebut, tata cara penyampaian pesan ataupun sanggahan terhadap pemikiran alternatif dari para kritikus sudah semestinya disampaikan lewat koridor yang elegan.
Pendekatan komunikasi yang tenang dan bijaksana dinilai jauh lebih efektif untuk meredam polemik ketimbang menggunakan pilihan kata yang dapat memicu sentimen negatif di masyarakat.
“Kepala negara adalah mahkota, semestinya berlaku sopan, lemah lembut dan senantiasa dingin,” ujar Andi.
Dalam dinamika sebelumnya, sang kepala negara terpantau melayangkan sentimen negatif terhadap sejumlah pemikir yang dituding menyalahgunakan kepakaran demi memproduksi narasi fitnah.
Melalui pidato resminya, ia menekankan urgensi integritas moral bagi kaum intelektual seraya melayangkan sindiran keras yang kemudian memicu perdebatan panjang di ruang digital.
Pernyataan satir mengenai kadar kecerdasan yang berbalik menjadi sebuah kebodohan tersebut langsung menjadi topik hangat setelah rekamannya tersebar luas di jagat maya.
“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” kata Prabowo.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok