Repelita Jakarta - Pengamat ekonomi senior Erizeli Bandaro menilai nilai tukar mata uang atau kurs merupakan cermin paling jujur untuk mengukur stabilitas politik serta tingkat kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan sebuah negara.
Dirinya menegaskan bahwa narasi optimistis yang kerap dibangun oleh para pejabat publik melalui pidato formal maupun rekayasa data statistik jangka pendek tidak akan mampu mengelabui pasar valuta asing dalam durasi yang lama.
ADVERTISEMENT
“Pidato pemerintah bisa dibuat optimistis. Statistik bisa dipoles. Pertumbuhan ekonomi bisa direkayasa lewat belanja fiskal jangka pendek. Tetapi pasar valuta asing sulit dibohongi terlalu lama. Karena di pasar uang, yang dipertaruhkan adalah uang nyata, bukan narasi.”
Menurut analisisnya, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bukan sekadar indikator ekonomi biasa melainkan akumulasi dari kedisiplinan fiskal, kredibilitas bank sentral, hingga kepastian arah kebijakan masa depan.
Oleh karena itu, ia menyatakan bahwa pasar keuangan akan selalu merespons secara instan melalui tindakan konkret berupa pelarian modal jika melihat adanya pembengkakan defisit anggaran, lonjakan utang, hingga dominasi kekuatan oligarki.
“Ketika pelaku pasar melihat: Defisit fiskal membesar, Utang meningkat, Ketidakpastian kebijakan tinggi, Oligarki terlalu dominan, Institusi negara melemah, Maka refleks pertama biasanya terjadi di pasar valuta asing. Orang mulai mencari pertindungan pada aset yang dianggap lebib aman: USD, emas, atau aset luar negeri.”
Lebih lanjut, ia menjabarkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan sebuah sinyal politik kuat yang menunjukkan kemerosotan legitimasi dan hilangnya keyakinan pelaku usaha global terhadap komitmen penegakan regulasi di dalam negeri.
Bagi dirinya, mekanisme pasar uang bertindak layaknya sebuah mesin pemungutan suara harian yang memberikan penilaian objektif tanpa bisa diintervensi oleh pencitraan politik ataupun hasil survei opini publik yang bias.
“Dalam konteks ini, peleman mata uang bukan semata fenomena moneter, tetapi sinyal politik: Ia menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap arah negara. Pasar tidak menilai apa yang kita katakan, tetapi apa yang kita lakukan.”
Ia menggarisbawahi bahwa jatuhnya nilai tukar adalah bentuk sanksi nyata dari pasar yang tidak memerlukan aksi unjuk rasa massa di jalanan, melainkan cukup ditunjukkan dengan masifnya aliran dana yang keluar dari sistem perbankan nasional.
“Kurs adalah “voting machine” harian dari pasar terhadap kualitas kebijakan negara. Tidak perlu demonstrasi jutaan orang. Cukup arus modal keluar dan permintaan USD meningkat, maka pasar sudah memberikan penilaiannya sendiri.”
Sebagai penutup ulasannya, pengamat kawakan ini mengingatkan otoritas fiskal bahwa kestabilan nilai tukar mata uang hanya bisa dicapai apabila ekosistem perpolitikan nasional berjalan secara sehat dan menghasilkan kebijakan yang berkualitas.
“Dalam ekonomi modern, mata uang adalah cermin kepercayaan. Dan kepercayaan adalah produk dari politik yang berkualitas.”(*)
Editor: 91224 R-ID Elok