Berita, Timur Tengah

Arab Saudi Khawatir Laut Merah Jadi Kartu Truf Iran, Desak AS Segera Akhiri Blokade dan Kembali ke Meja Perundingan

Repelita.id

17 April 2026 18:48 WIB

Arab Saudi Khawatir Laut Merah Jadi Kartu Truf Iran, Desak AS Segera Akhiri Blokade dan Kembali ke Meja Perundingan
Foto: Istimewa

Repelita Riyadh - Kekhawatiran mendalam melanda Kerajaan Arab Saudi bahwa Laut Merah dapat dijadikan sebagai kartu truf oleh Iran untuk membalas blokade AS di Selat Hormuz, sehingga Riyadh pun mendesak Washington untuk segera mengakhiri kebijakan tersebut.

The Wall Street Journal melaporkan pada Selasa (14/4/2026) bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara aktif menekan pemerintahan Trump agar kembali ke meja perundingan dengan Teheran, bukan terus menerapkan blokade angkatan laut yang dimulai pada Senin (13/4/2026) pukul 21.00 WIB .

ADVERTISEMENT

Ketakutan utama Riyadh adalah Iran akan memerintahkan kelompok Houthi di Yaman untuk menutup Selat Bab al-Mandeb, jalur sempit di Laut Merah yang saat ini menjadi jalur utama bagi sisa ekspor minyak Arab Saudi setelah Selat Hormuz terganggu .

“Negara-negara Teluk tidak ingin perang berakhir dengan Iran menguasai Selat Hormuz, jalur kehidupan ekonomi mereka. Namun, Arab Saudi dan negara tetangganya kini mendesak AS menyelesaikan masalah ini di meja perundingan,” tulis laporan Wall Street Journal tersebut .

Meskipun Arab Saudi memiliki pipa minyak Timur-Barat sepanjang 750 mil yang menghubungkan ladang minyak di Teluk ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah, jalur alternatif ini dinilai sangat rentan jika Houthi kembali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial .

Satu serangan saja diyakini cukup untuk membuat perusahaan pelayaran enggan mengirim kapal tanker ke Yanbu, yang pada gilirannya dapat melumpuhkan ekspor energi kerajaan dan memicu lonjakan harga minyak dunia .

“Jika AS bergerak untuk memberlakukan blokade pada pelabuhan Iran dan Iran mulai merasakan tekanan, Ansarullah kemungkinan besar akan meningkatkan eskalasi di Bab al-Mandeb,” kata Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, kepada Associated Press .

Perubahan sikap Arab Saudi ini dinilai cukup signifikan karena sebelumnya Riyadh termasuk salah satu negara yang paling keras terhadap Iran dan mendukung tekanan militer .

Namun kini, para pejabat Teluk menilai harapan besar negara-negara Arab terhadap kembalinya Trump ke Gedung Putih mulai memudar karena kebijakan Washington justru memperburuk situasi regional .

Arab Saudi disebut masih mampu menghadapi satu blokade, tetapi menolak risiko blokade kedua yang bisa memicu krisis lebih besar dan biaya ekonomi yang sangat mahal, bahkan bagi eksportir minyak terbesar di kawasan tersebut .

Sepanjang 2023 hingga tahun lalu, Houthi tercatat telah melancarkan 190 serangan terhadap kapal dagang, yang mengakibatkan lalu lintas Laut Merah turun lebih dari 60 persen .

“Kondisi untuk melanjutkan serangan terhadap kapal sekarang lebih permisif daripada kapan pun sejak tahun 2023,” ujar Amr al-Bidh, perwakilan khusus presiden Dewan Transisi Selatan di Yaman .

Para pejabat Saudi meyakini bahwa meskipun MBS tidak akan mengakui perubahan sikap secara terbuka, kebijakan kerajaan terhadap Iran akan bergeser ke arah yang lebih hati-hati demi menjaga stabilitas ekonomi dan keamanan nasional .(*)


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung