Berita, Internasional

AS Dakwa Raul Castro atas Insiden Penembakan Pesawat Sipil 1996, Hubungan Amerika Serikat dan Kuba Kembali Memanas

Repelita.id

26 May 2026 13:29 WIB

AS Dakwa Raul Castro atas Insiden Penembakan Pesawat Sipil 1996, Hubungan Amerika Serikat dan Kuba Kembali Memanas
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Kuba kembali memanas setelah Departemen Kehakiman AS secara resmi menjatuhkan dakwaan pidana terhadap mantan Presiden Kuba, Raul Castro.

Langkah hukum ini terkait dengan insiden penembakan dua pesawat sipil milik kelompok aktivis Brothers to the Rescue yang terjadi di wilayah udara internasional pada 24 Februari 1996.

ADVERTISEMENT

Peristiwa tersebut menelan empat korban jiwa yang merupakan warga negara Amerika Serikat, sebuah insiden yang telah memicu tuntutan keadilan selama hampir tiga dekade terakhir.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, menyatakan bahwa dakwaan tersebut juga menyasar lima individu lainnya yang diduga berperan sebagai pilot jet tempur Kuba dalam operasi militer itu.

Pemerintah Kuba segera merespons dengan keras melalui Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez Parrilla, yang menegaskan bahwa dakwaan AS tersebut tidak memiliki dasar hukum dan sarat kepentingan politik.

Pihak Havana bersikeras bahwa tindakan militer yang dilakukan pada tahun 1996 merupakan langkah perlindungan kedaulatan negara.

Raul Castro sendiri dikenal sebagai tokoh sentral dalam sejarah Kuba modern, mulai dari keterlibatannya dalam Revolusi 1959 hingga memimpin Angkatan Bersenjata selama puluhan tahun.

Ia tercatat sebagai adik dari pemimpin legendaris Fidel Castro dan dikenal memiliki pengaruh yang sangat dominan dalam struktur militer serta intelijen negara.

Meski telah melepas berbagai jabatan resmi dalam beberapa tahun terakhir, pengaruh Raul Castro di dalam internal Partai Komunis Kuba diyakini masih sangat besar.

Adapun proses hukum di Amerika Serikat ini dinilai lebih bersifat simbolis, mengingat Kuba tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan Washington.

Situasi ini terjadi di tengah kondisi Kuba yang sedang terpuruk akibat krisis energi, inflasi yang melonjak, serta tekanan sanksi ekonomi dari pihak Amerika Serikat.

Langkah agresif Washington terhadap figur penting Kuba ini diperkirakan akan memicu ketegangan baru di kawasan Amerika Latin.

Ketidakpastian masa depan stabilitas politik Havana kini semakin menjadi sorotan dunia internasional menyusul peningkatan tensi diplomatik yang terjadi belakangan ini. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung