Berita, Timur Tengah

AS Kerahkan 3.500 Personel dan Kapal Serbu Amfibi USS Tripoli ke Timur Tengah, Pusat Komando Siap Operasikan F-35 di Tengah Eskalasi Iran

Repelita.id

29 March 2026 12:26 WIB

AS Kerahkan 3.500 Personel dan Kapal Serbu Amfibi USS Tripoli ke Timur Tengah, Pusat Komando Siap Operasikan F-35 di Tengah Eskalasi Iran
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Amerika Serikat terus meningkatkan pengerahan kekuatan militernya ke kawasan Timur Tengah di tengah eskalasi konflik yang semakin memanas dengan Iran, dengan lebih dari 3.500 personel militer dilaporkan telah tiba di wilayah tersebut.

Kapal serbu amfibi canggih USS Tripoli menjadi salah satu andalan pengerahan ini, membawa sekitar 2.500 personel Marinir dan telah memasuki wilayah tanggung jawab operasional Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM.

ADVERTISEMENT

USS Tripoli merupakan kapal serbu amfibi kelas America kedua yang diresmikan pada 15 Juli 2020, dinamai dari Pertempuran Derna dalam Perang Barbary Pertama tahun 1805 yang melibatkan Marinir Amerika Serikat.

Kapal ini memiliki dek penerbangan luas yang mampu mengoperasikan jet tempur F-35 Lightning II, pesawat tiltrotor MV-22 Osprey, serta berbagai aset udara lainnya yang sangat dibutuhkan dalam operasi militer.

Sebelumnya, kapal ini berbasis di Jepang dan sempat melakukan latihan militer di sekitar perairan Taiwan sebelum akhirnya diperintahkan menuju Timur Tengah sekitar dua pekan lalu.

Selain USS Tripoli, kapal USS Boxer bersama dua kapal lainnya serta unit Marinir tambahan dari San Diego juga dikerahkan ke kawasan tersebut untuk memperkuat posisi Amerika Serikat.

CENTCOM mengklaim bahwa lebih dari 11.000 target telah berhasil dihantam oleh pihak Amerika Serikat sejak dimulainya Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026 sebagai respons terhadap agresi Iran.

Di tengah pengerahan pasukan yang terus digencarkan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menyatakan bahwa Washington masih berupaya mencapai tujuan militernya tanpa harus mengerahkan pasukan darat secara penuh.

Namun ia menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tetap harus siap menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan, dengan pasukan yang tersedia untuk memberi presiden pilihan maksimal dalam merespons situasi.

Pengerahan pasukan ini terjadi setelah serangan balasan Iran yang melibatkan enam rudal balistik dan 29 drone ke Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi, yang melukai sedikitnya 10 personel Amerika Serikat.

Situasi keamanan di kawasan semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengklaim ikut terlibat dalam konflik dengan meluncurkan rudal ke arah Israel, meskipun rudal tersebut berhasil dicegat.

Para analis militer memperingatkan bahwa keterlibatan kelompok Houthi dapat mengganggu jalur pelayaran global, khususnya di Selat Bab el-Mandeb yang merupakan salah satu jalur vital perdagangan dunia.

USS Tripoli kini bergabung dengan kekuatan militer Amerika Serikat lainnya di kawasan termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, sementara USS Gerald R. Ford dilaporkan sedang menjalani perawatan di Kroasia.

Hingga saat ini, konflik di Timur Tengah masih terus berkembang dengan potensi eskalasi yang semakin luas, baik di darat maupun di laut, seiring dengan pengerahan pasukan yang terus dilakukan oleh Amerika Serikat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung