Berita, Timur Tengah

AS Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz, Iran Keluarkan Peta Navigasi Baru yang Memperkeruh Ketegangan

Repelita.id

15 April 2026 12:05 WIB

AS Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz, Iran Keluarkan Peta Navigasi Baru yang Memperkeruh Ketegangan
Foto: Istimewa

Repelita Selat Hormuz - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memuncak seiring langkah militer Amerika Serikat yang mengerahkan armada kapal perang ke Selat Hormuz untuk menjalankan operasi pembersihan ranjau laut.

Langkah strategis Washington ini difokuskan pada upaya menetralisir ranjau-ranjau yang diduga ditempatkan oleh Iran di jalur pelayaran yang sangat vital bagi distribusi energi global.

ADVERTISEMENT

Situasi ini segera menjadi sorotan dunia mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi utama perdagangan minyak dan gas bumi antarnegara.

Laporan dari Al Jazeera menyebutkan bahwa operasi militer AS tersebut dilaksanakan di tengah eskalasi konflik yang berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menegaskan bahwa misi ini bertujuan untuk mengamankan jalur pelayaran bagi kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

Prioritas utama pasukan AS adalah melindungi kapal tanker pengangkut komoditas energi agar dapat melintas tanpa menghadapi ancaman ledakan di laut.

Di sisi lain, Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis peta navigasi baru yang mengubah pola pelayaran di kawasan tersebut.

Peta itu menginstruksikan kapal-kapal untuk berlayar lebih dekat ke garis pantai Iran disertai peringatan mengenai potensi bahaya ranjau di jalur utama.

Perkembangan ini dengan jelas menggambarkan betapa rumitnya situasi keamanan yang sedang berlangsung di perairan strategis tersebut.

Para analis militer menilai bahwa ranjau laut kini menjadi senjata murah namun memiliki dampak luar biasa dalam peperangan modern.

Lembaga Foreign Policy Research Institute menyebutkan biaya produksi ranjau modern hanya mencapai puluhan ribu dolar per unit.

Namun dampak yang ditimbulkan dari senjata ini mampu melumpuhkan jalur perdagangan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Para ahli memperkirakan bahwa Iran memiliki persediaan ribuan ranjau laut antara 2000 hingga 6000 unit yang diproduksi secara domestik.

Ranjau-ranjau tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan mekanisme kerja saat menyerang target kapal.

Jenis pertama adalah ranjau kontak yang akan meledak ketika bersentuhan langsung dengan lambung kapal yang melintas.

Selain itu terdapat ranjau dasar laut atau ranjau pengaruh yang dipicu oleh sinyal suara, magnet, atau tekanan air.

Jenis ranjau pengaruh ini dinilai lebih berbahaya karena mampu meledak tanpa kontak fisik dengan kapal.

Bahkan ada pula ranjau pintar yang dapat meluncurkan roket secara otomatis saat mendeteksi keberadaan kapal di atasnya.

Hingga saat ini tidak ada kepastian mengenai lokasi pasti penempatan ranjau di Selat Hormuz.

Iran belum secara resmi mengonfirmasi apakah ranjau telah dipasang atau di mana titik-titik penanamannya.

Namun kehadiran kapal perang AS yang melakukan pencarian menunjukkan bahwa Washington juga belum mengetahui lokasi ranjau tersebut.

Para analis meyakini penempatan ranjau kemungkinan telah dirancang untuk mengeksploitasi geografi sempit Teluk.

Peta yang dirilis IRGC disebut sebagai upaya untuk mengarahkan lalu lintas kapal lebih dekat ke wilayah pantai Iran.

Seorang pensiunan perwira angkatan laut Rumania, Alexandru Cristian Hudisteanu, menyatakan bahwa penambangan sistematis digunakan untuk menghalangi akses ke perairan tertentu.

Menurutnya lokasi fisik ranjau seringkali kurang penting dibandingkan efek psikologis yang ditimbulkan terhadap pelayaran internasional.

Ketegangan politik di sekitar Selat Hormuz dilaporkan telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Pada awal Maret lalu, seorang penasihat senior IRGC menyatakan bahwa selat tersebut tertutup bagi musuh meski kapal tertentu tetap diizinkan melintas.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pasukan AS telah menghancurkan seluruh 28 kapal penyebar ranjau milik Iran.

Trump juga memperingatkan akan adanya konsekuensi besar jika ancaman ranjau tidak segera ditangani secara menyeluruh.

Namun Komando Pusat AS hanya mengonfirmasi serangan terhadap 16 kapal Iran dalam gelombang awal operasi.

Klaim penghancuran seluruh armada kapal penyebar ranjau tersebut belum dapat diverifikasi oleh sumber independen manapun.

Proses pembersihan ranjau atau mine countermeasures dikenal sebagai pekerjaan yang lambat, metodis, dan penuh risiko tinggi.

Operasi ini melibatkan pencarian ranjau dengan sonar beresolusi tinggi serta penyapuan mekanis atau magnetik untuk memicu ledakan.

Namun Angkatan Laut AS disebut sedang menghadapi kesenjangan ranjau akibat berkurangnya aset khusus dalam beberapa tahun terakhir.

Empat kapal MCM kelas Avenger yang bermarkas di Bahrain telah dinonaktifkan pada September lalu.

Penghentian juga menimpa helikopter MH-53E Sea Dragon yang pensiun pada Agustus tahun yang sama.

Strategi AS kini sangat bergantung pada kapal tempur kecil bermodul MCM yang jumlahnya terbatas.

Hanya satu kapal bernama USS Canberra yang tersedia di kawasan Selat Hormuz saat ini.

Para ahli menilai bahwa kapal MCM efektif untuk tugas spesifik namun rentan terhadap serangan musuh.

Oleh karena itu kapal-kapal tersebut membutuhkan perlindungan besar dari kapal perang lain saat beroperasi di lapangan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung