Repelita Pinrang - Seorang kadet Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar bernama Aslan Yusuf (21) asal Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, dikabarkan hilang di perairan laut Norwegia.
Kadet pelayaran tersebut diduga terjatuh dari kapal tanker minyak mentah Alfa Batica yang membawanya berlayar dengan rute dari Mongstad, Norwegia menuju Butinge, Lithuania.
ADVERTISEMENT
Kabar hilangnya Aslan Yusuf dibenarkan oleh nahkoda kapal Alfa Batica yang memaparkan bahwa kapal dilanda cuaca ekstrem saat berada di perairan Norwegia.
Pada pukul 15.30 waktu setempat, nahkoda memanggil Mualim I ke anjungan untuk membahas situasi dan memutuskan mengubah haluan kapal dari 135 derajat menjadi 120 derajat.
Keputusan tersebut diambil untuk mengurangi terpaan angin dari buritan serta menghindari potensi kerusakan kapal di tengah badai.
Setelah penilaian situasi, Mualim I bersama lima orang kru dek menuju dek utama sisi kiri melalui jalur akses kapal.
Secara tiba-tiba, kondisi cuaca memburuk disertai gelombang besar yang datang dari sisi kanan (starboard) menuju sisi kiri (port).
Tidak ada kru yang menyadari adanya personel yang jatuh ke laut hingga salah satu kru dek mendengar teriakan.
Setelah dicek, ternyata seseorang telah jatuh ke laut dan diketahui adalah Aslan Yusuf yang sedang magang di kapal tersebut.
Ayah Aslan bernama Yusuf mengatakan bahwa pihak keluarga justru mendapatkan informasi mengenai jatuhnya sang anak dari rekan sesama siswa PIP Makassar serta pihak agen di Jakarta.
"Katanya jatuh karena cuaca buruk. Kami belum dapat kronologi pastinya karena informasi dari agen masih sangat terbatas," katanya saat dihubungi pada Jumat (10/4/2026).
Yusuf mengungkapkan bahwa pihak keluarga merasa terpukul karena komunikasi resmi dari otoritas pemerintah terkait belum juga diterima.
"Belum ada komunikasi dari pemerintah ke kami. Harapan kami ada komunikasi itu. Sejauh ini baru dari teman dan juga dosen kampus," ungkapnya.
Keluarga pun berharap pemerintah Indonesia melalui kementerian terkait dapat segera melakukan langkah diplomatik dan berkoordinasi dengan otoritas Norwegia.
"Semoga pemerintah ikut memperhatikan pencarian agar anak kami bisa cepat ditemukan," pungkas Yusuf.
Keluarga juga mengaku heran karena proses pencarian terhadap Aslan disebut hanya dilakukan selama satu hari sebelum akhirnya dihentikan.
"Iya, itu katanya dilakukan pencarian (keberadaan Aslan) tapi diberhentikan hanya satu hari," kata Yusuf mempertanyakan keputusan tersebut.
Informasi yang diterima keluarga menyebutkan bahwa kapal langsung melanjutkan perjalanan setelah dilakukan pencarian singkat.
"Itu makanya kami mau pertanyakan bagaimana kelanjutannya. Kenapa cuman sehari saja proses pencarian," tuturnya.
Yusuf menegaskan bahwa pihak keluarga sangat membutuhkan kronologi yang jelas terkait peristiwa yang menimpa anaknya.
"Ini yang kami butuhkan kronologi yang jelas terkait anak saya sampai terjatuh dari kapal seperti apa. Jadi kami butuh kejelasan kronologi kejadian dan proses pencarian yang dilakukan sampai saat ini seperti apa," tegasnya.
Yusuf menyebut anaknya masih menempuh pendidikan di PIP Makassar dengan status magang sebagai kru kapal saat kejadian naas tersebut menimpanya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok