Berita, Nasional

Asri Tadda Bela Kritik Anies Baswedan, Tegaskan Demokrasi Sehat Tak Bisa Dibangun dengan Optimisme Palsu dan Anti-Kritik Pemerintah

Repelita.id

23 May 2026 16:40 WIB

Asri Tadda Bela Kritik Anies Baswedan, Tegaskan Demokrasi Sehat Tak Bisa Dibangun dengan Optimisme Palsu dan Anti-Kritik Pemerintah
Foto: Istimewa

Repelita Makassar - Pemimpin Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan Asri Tadda memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan politisi senior Partai Golkar Idrus Marham yang mengimbau agar penyampaian kritik terhadap kinerja eksekutif senantiasa dibarengi dengan aura optimisme serta solusi konkrit.

Menurut pandangan Asri, segala bentuk masukan negatif di dalam iklim negara yang menganut sistem demokrasi tidak sepatutnya diinterpretasikan secara keliru sebagai bentuk ancaman politik, terlebih jika narasi tersebut murni bersumber dari realitas sosial ekonomi yang tengah dihadapi oleh lapisan masyarakat bawah.

ADVERTISEMENT

“Kami menghormati pandangan Pak Idrus Marham. Namun yang perlu dipahami, optimisme yang sehat tidak lahir dari menutup mata terhadap persoalan. Optimisme justru lahir dari keberanian mengakui masalah dan kesungguhan untuk menyelesaikannya,” kata Asri dalam keterangan tertulisnya di Makassar pada hari Sabtu tanggal 23 Mei 2026.

Dirinya juga menilai bahwa esensi dari berbagai pernyataan publik yang kerap dilontarkan oleh tokoh nasional Anies Baswedan selama ini bukanlah sebuah manuver untuk menyebarkan keputusasaan di tengah masyarakat, melainkan wujud nyata dari tanggung jawab moral seorang pemimpin dalam menyuarakan jeritan rakyat.

Sejumlah indikator sosial kemasyarakatan yang kerap disuarakan meliputi bayang-bayang tekanan finansial internal rumah tangga, kemerosotan daya beli masyarakat secara makro, minimnya ketersediaan ruang lapangan kerja baru, hingga pembengkakan beban biaya hidup yang mengimpit kelas menengah ke bawah.

“Ketika rakyat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus naik, biaya hidup semakin berat, dan peluang ekonomi makin sempit, maka menyampaikan fakta itu bukan pesimisme. Itu adalah kejujuran,” ujarnya guna meluruskan persepsi keliru dari sebagian kelompok elite kekuasaan.

Asri menegaskan bahwa potensi bahaya terbesar justru akan muncul apabila para pemangku kebijakan publik cenderung lebih sibuk merancang kosmetik narasi optimisme semu di ruang media ketimbang fokus membedah akar permasalahan riil yang mendera kehidupan konstituen mereka.

“Jangan sampai kita terjebak pada logika bahwa setiap kritik terhadap pemerintah harus dianggap sebagai serangan politik. Jika ada persoalan yang disampaikan, jawablah substansinya. Jangan sibuk menyerang orang yang menyampaikan kritik,” tegasnya dengan raut muka serius.

Tokoh pemuda daerah tersebut juga memberikan catatan penting bahwa kendati dinamika perekonomian domestik tidak terlepas dari pengaruh guncangan geopolitik global, situasi sulit tersebut tidak semestinya dijadikan tameng pelindung untuk menghindari proses evaluasi menyeluruh atas efektivitas kebijakan nasional.

“Tidak ada yang membantah dunia sedang menghadapi tantangan ekonomi. Tetapi tugas pemerintah memastikan dampaknya bisa dilesakkan sekecil mungkin terhadap rakyat. Karena itu, ketika ada kritik terhadap kondisi yang terjadi, respons yang dibutuhkan adalah penjelasan dan solusi, bukan sekadar ajakan untuk tetap optimistis,” katanya memaparkan.

Sebagai sebuah wadah organisasi yang tumbuh dan bergerak dari basis gerakan kemitraan warga negara, DPW Gerakan Rakyat Sulawesi Selatan memandang bahwa instrumen kritik konstruktif serta keyakinan masa depan bukanlah dua variabel yang saling menegasikan satu sama lain.

“Kami percaya pada masa depan Indonesia. Tetapi kecintaan terhadap bangsa tidak bisa diwujudkan dengan menutupi masalah. Cinta kepada Indonesia mesti diwujudkan dengan keberanian mengatakan yang benar, sekalipun tidak nyaman didengar,” ujar Asri dengan intonasi mendalam.

Dirinya kembali menegaskan secara gamblang bahwa penyampaian aspirasi kritis merupakan manifestasi nyata dari ikhtiar kolektif untuk membenahi sistem tata kelola pemerintahan yang keliru, dan bukan sebuah skenario terselubung untuk mendelegitimasi kedaulatan negara hukum.

“Kritik adalah bagian dari ikhtiar memperbaiki keadaan, bukan upaya menjatuhkan negara,” tegas Ketua Gerakan Rakyat Sulsel tersebut guna menepis segala bentuk tuduhan miring yang dialamatkan kepada barisan kelompok kritis.

Asri bahkan sempat menyindir tabiat reaktif dari sejumlah oknum elite partai politik yang belakangan ini dinilai jauh lebih sensitif dalam merespons hantaman kritik personal dibandingkan memberikan perhatian pada esensi permasalahan yang tengah disoroti publik.

“Jangan salah sasaran. Yang harus dilawan adalah kemiskinan, pengangguran, ketimpangan, dan kesulitan hidup rakyat. Bukan orang yang mengingatkan bahwa masalah-masalah itu ada,” ujarnya menyayangkan sikap anti-kritik yang diperlihatkan oknum pejabat tersebut.

Pada bagian akhir nota penjelasannya, Asri melayangkan ajakan terbuka bagi segenap elemen bangsa untuk bahu-membahu merawat serta menumbuhkan budaya berpolitik dan berdemokrasi yang jauh lebih matang, sehat, serta berwawasan luas.

“Demokrasi yang sehat tidak meminta rakyat diam demi menjaga optimisme. Demokrasi yang sehat memberi ruang bagi kritik agar pemerintah semakin kuat dan kebijakan semakin tepat,” katanya mengakhiri ulasan pandangan umumnya.

“Indonesia tidak membutuhkan optimisme yang dipaksakan. Indonesia membutuhkan optimisme yang lahir dari kejujuran, keberanian, dan kerja nyata,” pungkasnya menutup pernyataan dengan sangat lugas.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung