Repelita Washington DC - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini dihadapkan pada gelombang desakan pemakzulan yang kian menguat di tengah tekanan perang melawan Iran.
Desakan tersebut semakin membara di kalangan elit Partai Demokrat menyusul pernyataan kontroversial Trump yang menyebut seluruh peradaban Iran akan mati malam ini.
ADVERTISEMENT
Sejumlah senator dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Demokrat secara terbuka menyerukan Kongres untuk segera kembali bersidang guna memulai proses pemakzulan.
Senator Ed Markey menjadi salah satu sosok yang paling vokal dengan menilai rencana kebijakan Trump sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
"Kongres harus kembali bersidang dan memakzulkan Donald Trump, apa yang direncanakan Trump dan Pete Hegseth adalah kejahatan perang, selesai," tegasnya seperti dilansir Newsweek.
Senator Kim juga menilai Trump telah kehilangan legitimasi sebagai panglima tertinggi, serta menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap presiden telah runtuh di tengah eskalasi konflik dengan Iran.
Tekanan politik terhadap Trump juga datang dari anggota DPR lintas negara bagian, dengan lebih dari 60 legislator Demokrat dilaporkan telah menyuarakan dukungan terhadap pemakzulan.
Tokoh-tokoh progresif seperti Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Rashida Tlaib, hingga mantan Ketua DPR Nancy Pelosi turut serta dalam gelombang tekanan ini.
Anggota DPR Sara Jacobs dalam pernyataan terpisah bahkan mendesak pimpinan militer untuk menolak perintah yang dinilai ilegal, serta menuding pernyataan Trump sebagai ancaman serius termasuk potensi genosida.
Julie Johnson menggambarkan kebijakan Trump sebagai tindakan sembrono yang telah menelan korban jiwa warga Amerika, seraya mendorong penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden dari jabatannya.
Kritik serupa datang dari Senator Chris Murphy yang menilai Trump telah kehilangan kendali atas realitas dan menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik yang tidak dapat dimenangkan.
Anggota DPR Joaquin Castro turut mendesak kabinet untuk segera bertindak melalui mekanisme konstitusional dengan menyebut kondisi presiden semakin memburuk.
Konflik dengan Iran mulai berdampak pada tingkat popularitas Trump, di mana survei terbaru menunjukkan tingkat persetujuannya turun menjadi 39 persen pada awal April.
Angka tersebut menurun dari sebelumnya 42 persen pada akhir Februari sebelum konflik pecah, dan mayoritas responden dilaporkan mendukung pemakzulan.
Namun demikian, peluang pemakzulan masih menghadapi hambatan besar di Kongres mengingat Partai Demokrat saat ini tidak menguasai mayoritas.
Di Senat, vonis pemecatan membutuhkan dukungan dua pertiga anggota, sebuah angka yang dinilai sulit dicapai karena dominasi Partai Republik.
Pengalaman pada masa jabatan pertama Trump menjadi preseden penting, di mana ia dua kali dimakzulkan oleh DPR namun gagal berujung pemecatan.
Peneliti jajak pendapat David Mermin menyebut situasi saat ini sebagai bagian dari tren polarisasi yang telah berlangsung lama dalam politik Amerika.
Meski peluang pemakzulan dinilai kecil dalam waktu dekat, tekanan politik terhadap Trump diperkirakan akan terus meningkat ke depannya.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok