Berita, Timur Tengah

Bagaimana Cara Kerja Sederet Jet Tua Iran yang Bikin Teknologi Modern Amerika Keteteran? Nih Bocorannya

Repelita.id

28 April 2026 16:51 WIB

Bagaimana Cara Kerja Sederet Jet Tua Iran yang Bikin Teknologi Modern Amerika Keteteran? Nih Bocorannya
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Sederet jet tempur tua peninggalan era 1960-an dan 1970-an yang dioperasikan Iran terbukti mampu membuat teknologi pertahanan modern Amerika Serikat keteteran dalam konflik terbaru di kawasan Teluk.

Keberhasilan mengejutkan ini terungkap dari laporan media NBC News pada Sabtu, 25 April 2026, yang membeberkan celah fatal pada sistem pertahanan rudal Patriot AS.

ADVERTISEMENT

Bocoran rahasia di balik kesuksesan Iran ini terletak pada taktik terbang rendah ekstrem yang sulit dideteksi radar modern.

Pesawat Northrop F-5 Tiger buatan Amerika Serikat yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu diterbangkan hanya beberapa puluh meter di atas permukaan tanah.

Ketinggian terbang yang sangat rendah ini membuat sistem radar pertahanan AS kesulitan membedakan antara jet tempur dengan derau atau noise dari permukaan bumi.

Metode lama yang disebut nap-of-the-earth ini sebenarnya sudah dikenal sejak Perang Vietnam, namun Iran mengembangkannya menjadi senjata ampuh.

Selain F-5, Iran juga mengerahkan Grumman F-14 Tomcat yang ikonik, pesawat yang sama yang pernah populer lewat film Top Gun.

Yang lebih mengejutkan lagi, pesawat pembom Sukhoi Su-24 buatan Rusia diterbangkan pada ketinggian nyaris menyentuh tanah, hanya sekitar 25 meter dari permukaan.

Meskipun satu unit Su-24 akhirnya berhasil ditembak jatuh, misi ini membuktikan bahwa jet tua tetap mematikan jika dijalankan dengan kecerdikan taktik.

Iran juga menggabungkan serangan jet jet tua ini dengan gelombang drone dan rudal balistik untuk membingungkan sistem pertahanan berlapis AS.

Kombinasi serangan simultan dari berbagai arah dengan ketinggian berbeda ini membuat sistem MIM-104 Patriot kewalahan melacak target prioritas.

Kepiawaian teknisi Iran dalam merawat dan mengkanibal suku cadang dari berbagai pesawat tua juga menjadi faktor kunci.

Akibat embargo senjata Barat sejak revolusi 1979, Iran terpaksa belajar membuat komponen sendiri atau mengambil dari pesawat lain yang tidak terbang.

Darwinisme industri ini justru menghasilkan kemampuan unik untuk mempertahankan armada jet lawas tetap terbang puluhan tahun melebihi perkiraan pabrikan.

Hasil akhir dari serangan gabungan ini sungguh di luar dugaan para analis militer Barat.

Lebih dari seratus titik di sebelas pangkalan militer AS terkena hantaman, termasuk hangar, radar, dan landasan pacu yang hancur.

Tujuh unit pesawat tempur canggih milik AS hangus terbakar di pangkalan-pangkalan di Kuwait dan Qatar.

Kerugian harian yang diderita Amerika disebut mencapai sekitar dua miliar dolar AS atau setara dengan Rp34 triliun per hari.

Pangakuan tentang bocornya pertahanan canggih ini jarang diungkap ke publik karena memalukan bagi industri pertahanan AS.

Sistem Patriot yang seharusnya menjadi tameng utama justru gagal total mendeteksi ancaman dari jet jet tua yang terbang rendah.

Para insinyur militer AS kini harus berpikir ulang tentang desain sistem radar yang terlalu fokus pada ancaman ketinggian tinggi dan rudal balistik.

Konflik ini membuktikan bahwa harga mahal dan teknologi generasi kelima tidak menjamin kemenangan jika taktik lawan lebih cerdik.

Media NBC News melaporkan bahwa kegagalan ini bakal memicu evaluasi besar-besaran terhadap sistem pertahanan udara AS di seluruh dunia.

Pelajaran berharga dari gurun pasir Kuwait ini adalah bahwa kadang teknologi rendah tetapi dijalankan dengan akal bisa mengalahkan perlengkapan canggih termahal sekalipun.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung