Repelita Jakarta - Aliansi mahasiswa dan elemen masyarakat sipil menyuarakan manifesto gerakan rakyat menyambut momentum dua tahun masa pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka melalui aksi Kamisan.
Informasi tersebut disiarkan melalui dokumentasi video dari kanal YouTube @titiknews_id yang dipublikasikan pada 20 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia Javasun menyatakan ada agenda besar rakyat pada 20 Oktober untuk menuntut evaluasi kinerja kepemimpinan nasional.
"Semakin ditekan semakin melawan bagaimana kita dipimpin oleh Wakil Presiden yang tidak mempunyai ijazah Kawan-kawan," ujar Javasun dalam orasinya.
Ia juga menambahkan bahwa gerakan ini berupaya merangkul seluruh elemen secara inklusif di Indonesia.
"Supaya besok itu bukan student movement lagi udah bukan gerakan buru lagi sudah bukan gerakan petani lagi sudah bukan gerakan nelayan lagi tapi kita bersama-sama mengejawantahkan gerakan rakyat Indonesia," tegasnya.
Aktivis penolak hukuman mati Harikan ikut memberikan kesaksian satu hari pascavonis pengadilan yang menjatuhkan hukuman penjara selama lima bulan kepada dirinya.
"Vonis saya 5 bulan ini vonis yang biasa saja bagi saya karena waktu itu 700 kawan kita 2025 itu menjadi tersangka dan 7.000 orang itu menjadi atau ditangkap oleh kepolisian," ungkap Harikan.
Perwakilan Koalisi Jaringan Anti Hukuman Mati Aisyah Humaidah turut menyoroti wajah penegakan hukum negara yang dinilai semakin militaristik.
"Hukuman mati itu sebenarnya bukan bagian dari identitas bangsa Indonesia hukuman mati itu dibawa oleh penjajah Belanda yang kemudian sampai hari ini masih ditetapkan dan masih digunakan oleh pemerintah kita," kata Aisyah.
Pakar hukum Batara Mereza yang hadir memberikan refleksi menyampaikan pandangan ilmiah mengenai fenomena remilitarisasi dalam tatanan sistem demokrasi kontemporer.
"Militarisme dalam konteks Indonesia adalah menanamkan nalar tempur serta struktur komando dalam kehidupan sipil kita," jelas Batara.
Ia berpesan agar kaum akademik dan mahasiswa tidak memilih untuk bungkam dalam melihat realita sosial.
"Sometimes silent is not a golden sometimes silent is betrayal act. Tidak selamanya diam itu emas karena diam itu seringkali adalah sebuah tindakan pengkhianatan," pungkasnya di hadapan massa aksi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok