Berita, Nasional

[BEREDAR KABAR] Selat Malaka Diusulkan Jadi Senjata Tekan Iran Demi Bebaskan Dua Kapal Pertamina?

Repelita.id

13 April 2026 22:12 WIB

[BEREDAR KABAR]  Selat Malaka Diusulkan Jadi Senjata Tekan Iran Demi Bebaskan Dua Kapal Pertamina?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Selat Malaka bisa menjadi senjata strategis Indonesia untuk membebaskan dua kapal Pertamina yang masih tersandera di Teluk Persia setelah Selat Hormuz ditutup oleh Garda Revolusi Islam Iran sejak perang berkecamuk pada 28 Februari 2026.

Laksamana Muda TNI Purnawirawan Surya Wiranto mengatakan Indonesia bisa menjadikan Selat Malaka sebagai alat tekanan dalam negosiasi dengan Iran karena posisi selat tersebut jauh lebih strategis dibandingkan Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

"Iya saya kira kita harus resiprokal. (Iran harus menjelaskan) Kenapa Indonesia ditahan kapalnya? Kalau kita mau keras-kerasan dengan Iran, kita cegat saja kapalnya di Malaka. Dia akan lebih susah. Jangan dong kapal kita ditahan karena enggak berbuat salah," tegas Surya kepada Suara.com.

Secara geopolitik, Selat Malaka merupakan jalur perdagangan internasional yang jauh lebih ramai dan penting dibandingkan Selat Hormuz karena berbagai komoditas penting dari berbagai benua melintas di perairan tersebut.

Indonesia memiliki empat dari sembilan choke point dunia atau alur sempit untuk navigasi internasional, dengan yang paling sempit berada di Selat Singapura antara Pulau Batam dan Singapura.

"Itu bisa jadi senjata strategis dalam geographic warfare," terang Surya yang mengajar di program Pascasarjana Universitas Pertahanan.

TNI AL sendiri pernah dua kali menutup ALKI II yang mencakup Selat Lombok, Laut Flores, Selat Makassar hingga Laut Sulawesi terhadap kapal-kapal Australia sebagai bentuk tekanan politik.

Aksi pertama dilakukan ketika Australia menyelundupkan senjata ke Timor Timur dan aksi kedua saat skandal penyadapan ponsel Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terbongkar pada 2013.

"Kita cegat untuk memberikan tekanan politik, tapi tidak dipublikasikan," urai Surya.

Para pakar hukum laut internasional memperingatkan bahwa kebijakan Iran menarik ongkos di Selat Hormuz bisa menciptakan preseden berbahaya yang dapat diikuti oleh negara-negara pemilik selat strategis di dunia termasuk Indonesia.

Mohd Hamzi Mohd Rusli, pakar hukum maritim internasional di Universiti Sains Islam Malaysia, mengatakan langkah Iran bisa melemahkan kepercayaan terhadap hukum maritim internasional.

"Ini bisa menciptakan preseden yang mengkhawatirkan untuk rute-rute laut strategis seperti Selat Malaka, Selat Bab el Mandeb dan bahkan alur laut kepulauan Indonesia (ALKI)," terang Rusli.

Meski demikian untuk menutup Selat Malaka, Jakarta harus berembuk terlebih dahulu dengan Singapura dan Malaysia mengingat perbatasan tiga negara di selat tersebut saling tumpang tindih.

Dua kapal Pertamina yang masih tersandera adalah Pertamina Pride, kapal Very Large Crude Carrier kebanggaan Pertamina yang bisa memuat hingga 2 juta barel minyak, serta Gamsunoro yang merupakan kapal tanker kelas menengah berkapasitas 120.000 barel.

Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menyatakan Jakarta harus bernegosiasi dengan Korps Garda Revolusi Islam seperti kapal-kapal lain yang masih menunggu Selat Hormuz dibuka.

"Pada masa perang, ada beberapa protokol yang harus dilalui terkait kapal-kapal yang hendak melewati Selat Hormuz, di antaranya adalah negosiasi dengan pihak keamanan Republik Islam Iran," kata Dubes Boroujerdi pada Sabtu (11/4/2026).(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung