Repelita Jakarta - Perhatian publik mendadak tertuju pada penggunaan anggaran oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang disebut mencapai ratusan miliar rupiah untuk jasa event organizer (EO), dengan total realisasi mencapai Rp113 miliar yang tersebar dalam puluhan kontrak.
Maria Utara Jaya tercatat sebagai vendor dengan nilai kontrak tertinggi yakni Rp18.472.000.000, disusul Falah Eka Cahya sebesar Rp16.590.000.000 dan Pojok Celebes Mandiri Rp15.416.365.703.
ADVERTISEMENT
Raja Idea Kreatif juga mencatatkan kontrak fantastis mencapai Rp12.576.438.473, sementara Anugrah Duta Promosindo menerima total kontrak hingga Rp11.072.879.037.
Beberapa vendor diketahui menerima lebih dari satu paket pekerjaan, seperti Renjana Media Indonesia yang mengantongi kontrak berturut-turut mulai Rp1.067.681.250 hingga Rp5.257.989.248.
Anugrah Wizardhi Convex juga muncul berulang dengan nilai kontrak Rp2.691.768.315, Rp1.515.437.823, dan Rp4.597.322.631.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam pernyataannya pada Selasa, 14 April 2026 meluruskan bahwa penggunaan EO bukan tanpa alasan melainkan bagian dari strategi menjalankan program nasional yang kompleks.
Dadan menjelaskan bahwa BGN saat ini masih berada pada tahap awal pembangunan sistem, struktur organisasi, serta tata kelola operasional sebagai lembaga baru.
Dalam tahap ini, BGN belum memiliki sumber daya internal yang sepenuhnya siap untuk menangani seluruh kebutuhan kegiatan berskala besar secara mandiri, tambahnya.
Ia menekankan bahwa penyelenggaraan kegiatan berskala besar seperti kampanye publik dan sosialisasi nasional membutuhkan dukungan pihak profesional.
Penggunaan jasa EO merupakan langkah strategis untuk memastikan kegiatan dapat berjalan secara profesional, terstandar, dan tepat waktu, sebut Dadan.
EO memiliki keahlian khusus dalam manajemen acara mulai dari perencanaan, koordinasi vendor, pengelolaan teknis lapangan, hingga mitigasi risiko operasional.
Hal-hal ini membutuhkan pengalaman dan tim yang solid yang secara realistis belum sepenuhnya dimiliki oleh BGN di fase awal pembentukannya, jelasnya.
Selain aspek teknis, penggunaan EO juga disebut membantu dalam pengelolaan administrasi dan keuangan karena memudahkan proses audit, pengawasan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran negara.
Dadan membantah anggapan bahwa kegiatan yang ditangani EO hanya bersifat seremonial, karena kualitas penyelenggaraan menjadi krusial untuk memastikan pesan pemerintah dapat dikemas secara efektif.
Kegiatan tersebut juga mencakup strategi komunikasi publik terkait isu gizi nasional serta pelatihan seperti Bimbingan Teknis bagi penjamah makanan.
Dari sisi efisiensi, penggunaan EO dinilai lebih rasional dibandingkan membangun tim internal dalam waktu singkat karena kebutuhan pelaksanaan program harus segera berjalan.
EO hadir sebagai solusi bridging atau jembatan agar program tetap dapat dieksekusi tanpa mengorbankan kualitas dan waktu, tandas Dadan.
Meski menjadi perhatian publik, Dadan memastikan seluruh penggunaan anggaran tetap mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok