Repelita Makassar - Otoritas bank sentral memandang optimalisasi mekanisme penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal menjadi instrumen krusial yang harus diperkuat guna membentengi stabilitas makroekonomi domestik dari guncangan pasar global.
Langkah perluasan integrasi sistem pembayaran antarnegara tersebut dinilai efektif memangkas ketergantungan industri ekspor-impor pada mata uang fiat barat sekaligus meminimalisir biaya konversi valuta asing bagi para pelaku usaha.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan rekapitulasi data perbankan, jumlah entitas bisnis yang aktif memanfaatkan kanal penyelesaian nontunai bilateral ini menunjukkan grafik pertumbuhan yang sangat impresif dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Jika pada periode awal pemetaan instrumen ini hanya diadopsi oleh ratusan pelaku industri, tren positif tersebut terus melonjak tajam hingga menembus ribuan korporasi yang terdaftar secara resmi pada pertengahan dekade.
“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” tegasnya dalam Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (21/5/2026).
Akselerasi adopsi sistem keuangan alternatif ini kian gencar dilakukan oleh jajaran otoritas moneter mitra dagang seiring dengan penunjukan lembaga perbankan jangkar yang bertindak sebagai fasilitator pertukaran likuiditas.
Sejalan dengan perluasan basis korporasi, nilai akumulasi perputaran dana dalam ekosistem pembayaran nontunai regional ini juga mencatatkan lompatan drastis hingga ratusan persen jika dikomparasikan dengan capaian tahun lalu.
Peningkatan volume penukaran likuiditas regional tersebut merefleksikan keberhasilan strategi diversifikasi portofolio valuta asing dalam struktur neraca perdagangan internasional guna mereduksi rambatan sentimen negatif dari pasar barat.
“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” katanya.
Ditinjau dari kontribusi pangsa pasar, aktivitas kliring terbesar masih didominasi oleh koridor perdagangan bilateral dengan wilayah Tiongkok, disusul oleh kemitraan perdagangan dengan Tokyo serta Negeri Jiran.
Pemanfaatan instrumen finansial ini terbukti mampu memotong rantai intermediasi mata uang global sehingga para pelaku komoditas dapat menikmati margin keuntungan yang lebih stabil dari fluktuasi kurs musiman.
Selain itu, efisiensi ini juga berdampak positif pada pendalaman likuiditas pasar modal regional serta membuka akses pembiayaan yang lebih inklusif bagi seluruh jejaring pelaku usaha di Asia Tenggara.
Histori pengembangan interkoneksi sistem pembayaran tanah air sendiri tercatat telah dirintis semenjak sewindu lalu dengan menggandeng dua otoritas moneter terdekat di kawasan regional sebelum merambah ke wilayah Asia Timur.
Dalam cetak biru perluasan jaringan ke depan, bank sentral tengah mematangkan regulasi teknis operasional guna mengintegrasikan sistem serupa dengan wilayah Asia Selatan serta koridor ekonomi Timur Tengah.
“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” ujar Ruth.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok