Berita, Nasional

Bongkar Pasang Politik ala Said Didu: Ronde Terakhir Manuver Solo Bikin Panik?

Repelita.id

07 September 2026 17:03 WIB

Bongkar Pasang Politik ala Said Didu: Ronde Terakhir Manuver Solo Bikin Panik?
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Gerakan massa yang mencuat ke permukaan publik pada pengujung bulan Agustus 2026 dibaca oleh tokoh nasional Said Didu sebagai indikasi kepanikan kelompok tertentu.

Rangkaian unjuk rasa itu dianalisis sebagai babak pemungkas atau strategi pamungkas yang dimotori oleh kekuatan politik asal Solo bersama jaringan elite partai koalisi.

ADVERTISEMENT

Langkah kolaboratif tersebut dicurigai sengaja dikonsolidasikan guna merusak legitimasi pemerintahan Presiden Prabowo yang dinilai abai terhadap ambisi politik pihak tertentu.

Sikap tidak akomodatif dari kepala negara terhadap rencana pencalonan sang anak dalam kontestasi masa depan menjadi pemicu utama keretakan relasi tersebut.

Lingkaran kekuasaan Solo disebut-sebut mulai memperhitungkan berbagai risiko apabila kepemimpinan nasional berjalan stabil hingga akhir masa jabatan, sehingga muncul dugaan skenario pelengseran dini.

Seluruh pandangan tajam tersebut disampaikan secara terbuka dalam rekaman siniar yang disiarkan melalui akun media sosial @OfficialSINDOnews pada tanggal 3 September 2026.

Mantan Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara itu turut membongkar latar belakang di balik penunjukan Gibran sebagai pendamping kepala negara yang sarat tekanan.

Dalam interaksi langsung sebelumnya, sang kepala negara sempat mengeluhkan adanya tekanan berupa ancaman hukum terhadap beberapa figur potensial lain yang sempat dipertimbangkan.

Situasi pelik tersebut mempersempit ruang gerak politik dan memaksa peta koalisi mengalami pergeseran haluan secara mendadak demi menghindari risiko terburuk.

Berbagai rentetan peristiwa politik sepanjang bulan Agustus, mulai dari publikasi survei khusus hingga deklarasi para pendukung, dinilai saling berkelindan satu sama lain.

Penerbitan hasil jajak pendapat yang sengaja membedakan tingkat kepuasan terhadap presiden dan wakilnya dipandang sebagai sebuah anomali politik yang sarat makna.

Kejanggalan statistik itu semakin memperkuat dugaan adanya operasi sistematis yang digerakkan secara konsisten guna mengamankan kepentingan kelompok lama di panggung kekuasaan pusat.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung