Repelita [Jakarta] - Peringatan Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengenai potensi tekanan geopolitik serupa Venezuela terhadap Indonesia memicu perhatian serius di kalangan ahli.
Pernyataan ini menyoroti posisi strategis Indonesia yang kaya sumber daya alam sebagai target kepentingan negara adidaya di tengah rivalitas global yang meningkat.
ADVERTISEMENT
Guru Besar Hubungan Internasional, Connie Rahakundini Bakrie, menegaskan bahwa peringatan Yusril harus disikapi sebagai alarm penting bagi para pengambil kebijakan nasional.
Ini bukan sekadar alarm, tetapi wake up call bagi para pemimpin kita, kata Connie dalam pandangannya terkait lanskap geopolitik dunia yang semakin kompetitif.
Ia menambahkan bahwa faktor kunci pertahanan tidak hanya terletak pada persenjataan, melainkan pada ketangguhan logistik, amunisi, kemampuan intelijen, serta dukungan solid dari masyarakat.
Apakah TNI siap atau tidak, itu penting. Tapi yang juga penting adalah apakah rakyat Indonesia siap dan memiliki kedekatan dengan pemerintah. Itu faktor utama dalam menjaga negara, ujarnya.
Selain itu, Connie menyoroti tantangan modernisasi alutsista yang terkendala oleh kebutuhan pemeliharaan berat serta alokasi anggaran yang masih didominasi belanja personel dibandingkan pengembangan teknologi pertahanan.
Di sisi lain, pakar keamanan nasional Wibawanto Nugroho berpendapat bahwa ancaman utama bagi Indonesia bukanlah invasi militer secara langsung melainkan perebutan pengaruh oleh kekuatan besar.
Saya tidak melihat Indonesia akan diinvasi, tutur Wibawanto mengenai proyeksi keterlibatan Indonesia dalam persaingan antara Amerika Serikat dan China.
Ia menilai Indonesia memegang posisi sebagai negara penentu atau swing state di kawasan Indo-Pasifik karena letak geografis, kekayaan mineral, serta perannya dalam peta politik global.
Siapa yang memenangkan pengaruh di Indonesia akan memiliki peluang lebih besar memenangkan persaingan di Indo-Pasifik, jelasnya.
Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia disarankan tetap menjalankan kebijakan luar negeri yang seimbang melalui strategi diplomasi multidimensional guna menjaga kedaulatan di tengah tekanan pihak luar.
Strategi tersebut memerlukan fondasi domestik yang kokoh, kejelasan kepentingan nasional, kepercayaan publik yang tinggi, serta kemampuan bermanuver secara independen di panggung internasional.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok