Repelita [Jakarta] - Otoritas China merevisi angka kematian akibat musibah ledakan tambang batu bara di Provinsi Shanxi menjadi 82 jiwa setelah sebelumnya sempat terjadi simpang siur data.
Insiden mematikan di fasilitas Liushenyu tersebut tercatat sebagai tragedi pertambangan paling buruk yang menimpa negara itu dalam kurun waktu 17 tahun terakhir.
ADVERTISEMENT
Pejabat setempat menjelaskan bahwa kekacauan informasi pada fase awal evakuasi memicu kesalahan hitung jumlah korban yang sempat dilaporkan lebih tinggi.
“Setelah kejadian itu, lokasi kejadian menjadi kacau, penghitungan jumlah pekerja oleh perusahaan tidak jelas, yang menyebabkan angka awal menjadi tidak akurat,” ungkap Guo Xiaofang, Kepala Wilayah Qinyuan.
Data terakhir menyebutkan ada 247 pekerja yang berada di dalam lubang tambang saat musibah terjadi, dengan 128 orang di antaranya mengalami luka-luka.
Hingga saat ini, tim penyelamat masih melakukan pencarian terhadap dua pekerja yang dilaporkan belum ditemukan di lokasi kejadian.
Manajemen Shanxi Tongzhou Coal Coking Group selaku pemilik tambang kini telah ditahan, sementara seluruh operasional di empat fasilitas milik perusahaan tersebut dihentikan total.
Presiden Xi Jinping telah menginstruksikan jajaran terkait untuk mengerahkan seluruh kemampuan terbaik dalam upaya perawatan medis korban luka dan proses pencarian.
Pemerintah pusat juga menuntut adanya audit komprehensif untuk mengungkap penyebab pasti ledakan yang terjadi di tambang berkapasitas 1,2 juta ton per tahun ini.
Media resmi negara turut menyoroti kejadian ini sebagai peringatan keras bagi sektor industri agar lebih mengutamakan aspek keselamatan daripada sekadar mengejar target produksi. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok