Repelita Teheran - Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri sekaligus mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi, meninggal dunia pada Kamis (9/4/2026) malam waktu setempat akibat luka parah yang dideritanya dalam serangan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan yang menargetkan kediaman Kharazi di ibu kota Teheran terjadi pada 1 April 2026, di mana sang istri dikabarkan tewas di tempat.
ADVERTISEMENT
Kharazi yang berusia 81 tahun sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit, namun nyawanya akhirnya tidak tertolong setelah beberapa hari dirawat.
Kematian Kharazi menuai respons duka dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang mengaku merasa kehilangan besar.
"Saya pertama kali mengenal Dr. Kharazi selama masa jabatannya sebagai duta besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Persahabatan kami berlanjut selama masa jabatannya yang terhormat sebagai Menteri Luar Negeri Iran," ujar Anwar dalam unggahan di laman X.
"Dunia telah kehilangan seorang diplomat yang luar biasa dan saya telah kehilangan seorang sahabat. Belasungkawa terdalam saya kepada keluarganya dan kepada rakyat Iran," lanjut Anwar.
Anwar juga menyebut bahwa kepergian Kharazi merupakan pengingat akan harga mengerikan dari konflik yang sedang berlangsung.
"Peperangan ini harus diakhiri," tegas Perdana Menteri Malaysia tersebut.
Sebagai informasi, Kharazi merupakan seorang diplomat senior Iran yang pernah menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan.
Ia pernah menjadi Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari tahun 1989 hingga 1997.
Setelah tidak lagi menjabat sebagai duta besar, Kharazi didapuk menjadi Menteri Luar Negeri Iran pada periode 1997 hingga 2005.
Sepanjang kariernya, ia juga pernah menjabat sebagai penasihat senior untuk Pemimpin Tertinggi Iran, kepala Pusat Ilmu Kognitif, dan anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran.
AS dan Israel sendiri kini telah menghentikan serangan ke Iran setelah Presiden AS Donald Trump menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama dua pekan pada Selasa (7/4/2026).
Gencatan senjata ini disepakati usai AS dan Israel membombardir Iran sejak 28 Februari lalu.
Sayangnya, AS dan Israel menegaskan bahwa Lebanon tidak terlibat dalam kesepakatan gencatan senjata tersebut.
Akibatnya, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon, meskipun Iran menyatakan bahwa dokumen gencatan senjata yang diberikan AS sudah melibatkan Lebanon.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok