Berita, Hukum

Bukannya Minta Maaf, Ade Armando Malah Mengaku Jadi Korban Polemik Ceramah JK

Repelita.id

23 April 2026 21:16 WIB

Bukannya Minta Maaf, Ade Armando Malah Mengaku Jadi Korban Polemik Ceramah JK
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Bukannya mengambil langkah elegan dengan meminta maaf atas kesalahan analisisnya, Ade Armando justru membangun narasi bahwa dirinya menjadi korban serangan publik tidak adil.

Dalam sebuah konten digital yang beredar luas di berbagai platform media sosial, kritik keras datang dari pihak yang menilai sikap Ade Armando tidak bertanggung jawab.

ADVERTISEMENT

Ia disebut tidak mau mengakui kekeliruan analisis atas video ceramah Jusuf Kalla yang dipotong tanpa konteks utuh dan hanya berdasarkan potongan yang beredar.

Alih-alih menyampaikan klarifikasi yang menenangkan, Ade Armando justru memperkuat posisinya dengan narasi bahwa ia menjadi sasaran serangan publik yang sistematis.

Sikap ini dinilai oleh banyak pihak sebagai upaya playing victim atau bermain sebagai korban untuk meraih simpati publik di tengah polemik.

Narasi yang berkembang di media sosial menyebut bahwa jika sejak awal ada pengakuan jujur terkait kekeliruan analisis, polemik bisa selesai lebih cepat.

Namun yang terjadi justru sebaliknya di mana argumen awal dipertahankan mati-matian sementara setiap kritik dianggap sebagai serangan personal terhadap dirinya.

Di sisi lain, Ade Armando dalam penjelasannya menolak tudingan bahwa dirinya memfitnah atau mengadu domba antarumat beragama di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa pembahasan dalam podcast yang ia tampilkan hanya murni bentuk kritik terhadap pernyataan yang dinilai berpotensi menimbulkan salah tafsir.

Ia juga menyebut sumber video yang ia gunakan berasal dari konten yang sudah lebih dulu beredar luas sebelum ia mengulasnya di kanal YouTube miliknya.

Namun bantahan yang disampaikan tersebut tidak disertai dengan permintaan maaf atau pengakuan bahwa analisisnya mungkin keliru karena kurang konteks.

Kritik lain muncul terkait penggunaan potongan video tanpa konteks penuh yang dinilai sangat berbahaya terutama dalam isu sensitif seperti agama.

Sejumlah tokoh yang pernah terlibat langsung dalam konflik horizontal di Ambon dan Poso justru memberikan perspektif berbeda tentang ucapan Jusuf Kalla.

Mereka menilai bahwa pernyataan Jusuf Kalla pada saat itu adalah refleksi jujur dari realitas konflik yang terjadi di lapangan, bukan ajaran teologis.

Alih-alih meredakan situasi, narasi "saya jadi korban" yang dibangun Ade Armando justru semakin memperkeruh suasana yang sudah panas.

Ancaman fisik dan psikologis, hujatan kebencian, hingga serangan personal bermunculan di berbagai platform tanpa ada upaya klarifikasi yang menenangkan.

Ade Armando mengaku sudah terbiasa menghadapi tekanan semacam itu karena kariernya sebagai pegiat media sosial yang kerap menuai kontroversi.

Publik kini membandingkan sikapnya dengan tokoh lain yang dalam situasi serupa memilih meminta maaf terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan panjang.

Di tengah riuhnya perdebatan, satu hal menjadi lebih jelas bahwa bukannya meminta maaf, Ade Armando justru memilih jalan menjadi korban.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung