Berita, Timur Tengah

China dan Inggris Tolak Blokade AS di Selat Hormuz, Macron Usul Misi Multinasional Damai

Repelita.id

14 April 2026 21:49 WIB

China dan Inggris Tolak Blokade AS di Selat Hormuz, Macron Usul Misi Multinasional Damai
Foto: Istimewa

Repelita Washington DC - Langkah Amerika Serikat memberlakukan blokade di Selat Hormuz memicu gelombang penolakan dari sejumlah negara besar, termasuk China dan Inggris, setelah operasi tersebut resmi berjalan sejak Senin, 13 April 2026 pukul 14.00 GMT.

Komando Pusat AS mengonfirmasi bahwa kebijakan ini membatasi kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman dengan tujuan menekan sumber pendapatan Teheran dari sektor energi dan perdagangan maritim.

ADVERTISEMENT

Menteri Pertahanan China, Dong Jun, memperingatkan Amerika Serikat agar tidak mengganggu hubungan ekonomi Beijing dengan Iran karena kedua negara memiliki perjanjian perdagangan dan energi yang telah disepakati.

Kami berharap pihak lain tidak ikut campur dalam urusan kami, tegas Dong Jun seraya menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi kepentingan perdagangan internasional.

Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam blokade tersebut karena menjaga selat tetap terbuka bagi perdagangan adalah hal yang sangat penting.

Kami tidak mendukung blokade itu, penting untuk menjaga selat tetap terbuka bagi perdagangan, ujar Starmer menolak ajakan AS untuk bergabung dalam koalisi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mengusulkan pembentukan misi multinasional yang bersifat damai dan defensif guna menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Jerman dilaporkan tidak akan terlibat dalam operasi militer terkait blokade tersebut, sejalan dengan kebijakan mereka yang menolak keterlibatan dalam konflik Iran.

Di kawasan Timur Tengah, Arab Saudi juga menyerukan agar blokade dihentikan dan digantikan dengan jalur diplomasi serta mendorong AS untuk kembali ke meja perundingan.

Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dimana sekitar 20 persen pasokan energi global melewati jalur ini setiap hari sebelum blokade diberlakukan.

Dengan memanasnya kembali tensi geopolitik, masa depan stabilitas kawasan dan kelancaran distribusi energi global kini berada dalam ketidakpastian.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung