Berita, Internasional

China di PBB Blak-blakan Sebut AS Biang Kerok Konflik Iran

Repelita.id

30 April 2026 13:11 WIB

China di PBB Blak-blakan Sebut AS Biang Kerok Konflik Iran
Foto: Istimewa

Repelita New York - Sebuah pernyataan tegas dan mengejutkan dilontarkan oleh China di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai konflik panas yang terjadi di kawasan Selat Hormuz.

Utusan Tetap China untuk PBB, Fu Cong, secara blak-blakan dan tanpa tedeng alih menyebut bahwa akar masalah di Selat Hormuz bukanlah tindakan defensif dari Iran.

ADVERTISEMENT

Menurut diplomat senior Beijing tersebut, sumber sesungguhnya dari kekacauan justru berasal dari agresi ilegal yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya Israel.

Sontak pernyataan keras ini langsung mengundang perhatian dunia, terlebih karena disampaikan di tengah situasi Timur Tengah yang masih dilanda badai konflik berkepanjangan.

Dalam pidatonya yang berapi-api di hadapan Dewan Keamanan PBB, Fu Cong menolak narasi yang selama ini dibangun oleh pihak Barat.

"Penyebab utama situasi saat ini di Selat Hormuz adalah agresi ilegal oleh Amerika Serikat dan Israel," tegas Fu Cong dengan lantang.

Pernyataan itu disampaikan dalam sidang darurat yang membahas eskalasi militer terbaru di kawasan Teluk Persia.

Kutipan pidato tersebut dikutip secara luas oleh media internasional dari laporan resmi Xinhua pada Senin, 27 April 2026.

China secara eksplisit menyebut bahwa tindakan Washington dan Tel Aviv-lah yang memicu reaksi berantai berbahaya di kawasan tersebut.

Salah satu bentuk reaksi balasan yang dimaksud adalah kebijakan penutupan selat oleh Iran sebagai bentuk pembalasan yang sah.

Fu Cong memaparkan bahwa negara komunis itu tidak hanya ikut-ikutan menyalahkan, tetapi melakukan analisis mendalam atas kronologi kejadian.

Lebih lanjut, Fu Cong mengungkapkan fakta yang sangat mengejutkan terkait situasi pasca gencatan senjata.

Meskipun perjanjian gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran baru saja tercapai, Washington justru menambah eskalasi.

Alih-alih meredakan situasi dengan menarik pasukan, Amerika Serikat malah meningkatkan jumlah personel militernya di kawasan konflik.

Mereka juga secara sepihak melakukan tindakan blokade yang terarah atau dalam istilah militer disebut "targeted blockade" terhadap Iran.

"Bahkan setelah kesepakatan gencatan senjata baru-baru ini, Amerika Serikat meningkatkan penempatan militernya dan melakukan blokade terarah terhadap Iran," kata Fu Cong.

China menilai langkah ini sangat berbahaya dan juga tidak bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas global.

"Dari pihak kami, kami akan melakukan segala sesuatu yang melayani kepentingan Anda, kepentingan semua rakyat di kawasan ini, untuk mencapai perdamaian ini secepat mungkin," tegas pernyataan pidato Fu.

Beijing dalam kesempatan itu tidak hanya sekadar menyalahkan salah satu pihak secara membabi buta.

China juga berinisiatif menawarkan solusi konkret yang dinilai paling rasional atas kebuntuan di Selat Hormuz.

Menurut Fu Cong, satu-satunya jalan keluar yang logis adalah menghentikan pertumpahan darah di darat dan laut.

Bukan dengan mengirimkan lebih banyak kapal perang atau rudal yang hanya akan menambah nyala api.

"Solusi untuk mengakhiri blokade jalur air global ini dan pengepungan maritim adalah mencapai kesepakatan gencatan senjata yang komprehensif dan berkelanjutan," ujar Fu Cong di hadapan para delegasi negara lain.

China percaya dengan penuh keyakinan bahwa hanya melalui perdamaian, keamanan jalur pelayaran dapat pulih kembali.

Stabilisasi kawasan Teluk dan Timur Tengah secara keseluruhan adalah prasyarat mutlak bagi kemakmuran dunia.

"Penggunaan kekuatan militer yang berlebihan tidak dapat menyelesaikan risiko dari akarnya. Sebaliknya, itu akan memperburuk ketegangan dan konfrontasi," tambahnya mengakhiri pidato.

Pernyataan China ini secara tidak langsung menjadi bumerang bagi Amerika Serikat yang kerap mengklaim diri sebagai penjaga stabilitas global.

Beijing secara implisit menyebut bahwa kebijakan luar negeri Washington yang agresif justru menjadi biang kerok kekacauan di Timur Tengah.

Posisi China yang tegas ini semakin memperkuat aliansi diplomatik antara Beijing dan Teheran yang sudah terjalin erat beberapa tahun terakhir.

Dunia kini menyaksikan pergeseran peta kekuasaan di Dewan Keamanan PBB, di mana suara-suara yang kritis terhadap Amerika mulai lantang terdengar.

Apakah peringatan dan solusi dari China ini akan didengarkan oleh pemerintahan Trump yang dikenal keras kepala masih menjadi tanda tanya besar.

Yang jelas, narasi bahwa Iran adalah satu-satunya agresor kini mulai terbantahkan oleh fakta-fakta yang dipaparkan oleh diplomat China tersebut.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok


TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung