Repelita Washington DC - China hingga Inggris menolak keras blokade Selat Hormuz yang diberlakukan Amerika Serikat, membuat situasi geopolitik dunia kian memanas setelah operasi tersebut resmi berjalan sejak Senin, 13 April 2026 pukul 14.00 GMT.
Menteri Pertahanan China, Dong Jun, memperingatkan AS agar tidak mengganggu hubungan ekonomi Beijing dengan Iran karena kedua negara memiliki perjanjian perdagangan dan energi yang telah disepakati.
ADVERTISEMENT
Kami berharap pihak lain tidak ikut campur dalam urusan kami, tegas Dong Jun seraya menegaskan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi kepentingan perdagangan internasional.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan ikut serta dalam blokade tersebut karena menjaga selat tetap terbuka bagi perdagangan adalah hal yang sangat penting.
Kami tidak mendukung blokade itu, penting untuk menjaga selat tetap terbuka bagi perdagangan, ujar Starmer menolak ajakan AS untuk bergabung dalam koalisi militer.
Presiden Prancis Emmanuel Macron justru mengusulkan pembentukan misi multinasional yang bersifat damai dan defensif guna menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Jerman dilaporkan tidak akan terlibat dalam operasi militer terkait blokade tersebut, sejalan dengan kebijakan mereka yang menolak keterlibatan dalam konflik Iran.
Di kawasan Timur Tengah, Arab Saudi juga menyerukan agar blokade dihentikan dan digantikan dengan jalur diplomasi serta mendorong AS untuk kembali ke meja perundingan.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia, dimana sekitar 20 persen pasokan energi global melewati jalur ini setiap hari.
Dengan memanasnya kembali tensi geopolitik akibat penolakan massal negara-negara besar, masa depan stabilitas kawasan dan kelancaran distribusi energi global kini berada dalam ketidakpastian.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok