Berita, Nasional

Connie Rahakundini Minta Teddy Indra Wijaya Libur Dulu, ke Kutub Kek, dan Sarankan Prabowo Lebih Banyak Mendengar Tokoh Senior

Repelita.id

14 June 2026 23:41 WIB

Connie Rahakundini Minta Teddy Indra Wijaya Libur Dulu, ke Kutub Kek, dan Sarankan Prabowo Lebih Banyak Mendengar Tokoh Senior
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses komunikasi yang lebih luas bagi berbagai kalangan, termasuk para akademisi dan tokoh senior berpengalaman.

Connie menekankan bahwa Indonesia sedang menghadapi dinamika masalah yang kompleks sehingga membutuhkan perspektif matang dari pihak-pihak yang memiliki jam terbang tinggi dalam pemerintahan.

ADVERTISEMENT

Ia secara terbuka mengkritik dominasi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang dinilainya terlalu mengendalikan arus informasi di sekitar Presiden.

"Yang Pak Prabowo mesti denger sekarang, coba suruh Teddy libur dulu ke mana nggak tahu saya, ke kutub kek, ke Afrika ke mana gua nggak ngertilah suruh dia ngapain. Jangan ada dulu Teddy," ungkap Connie melalui kanal YouTube Refly Harun pada Sabtu, 13 Juni 2026.

https://www.youtube.com/@ReflyHarun

Menurutnya, Presiden perlu meluangkan waktu untuk melakukan diskusi mendalam dengan tokoh-tokoh yang telah memahami tata kelola negara dengan baik.

"Dia duduk dengan semua orang-orang terdekat dia yang betul-betul sudah punya asam garam, yang matang," ujar Connie.

Ia secara spesifik menyarankan agar Presiden lebih sering menyerap masukan dari sosok seperti Sufmi Dasco Ahmad, Sjafrie Sjamsoeddin, serta para cendekiawan lainnya.

Connie menyoroti adanya persepsi negatif di ruang publik dan media sosial yang menganggap Teddy memiliki pengaruh kekuasaan yang berlebihan hingga disebut sebagai Presiden sebenarnya.

"Semua akses ke beliau tuh ditutup. Jadi the real president tuh adalah Teddy. Orang udah sampai… bukan saya nyimpulin nih, kalau saya baca sosial media kan udah kayak begitu," jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Connie juga menegaskan bahwa arah kebijakan negara seharusnya berpijak pada kedalaman pemikiran dan kajian strategis, bukan sekadar fokus pada penguatan alutsista.

"Kekuatan tuh di pikiran. Ini udah hilang di Pak Prabowo sekarang. Seolah kekuatan tuh di besi, di senjata, di alutsista, di alpalhankam. No, kekuatan negara itu kekuatan bangsa itu di pikirannya. Makanya lahir peradaban kan," tegasnya.

Ia berharap Presiden dapat kembali mengedepankan diskusi substansial dalam pengambilan keputusan agar bangsa ini tidak kehilangan esensi peradabannya di masa depan.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok



TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung