Berita, Nasional

Deddy Nur PSI Panasi Denny Indrayana: Umur Belum 40 Sudah Jadi Wapres, Bikin Meriang

Repelita.id

13 September 2026 18:49 WIB

Deddy Nur PSI Panasi Denny Indrayana: Umur Belum 40 Sudah Jadi Wapres, Bikin Meriang
Foto: Istimewa

Repelita Jakarta - Dinamika panggung politik nasional kembali memanas menyusul lontaran komentar menohok yang disampaikan oleh kader Partai Solidaritas Indonesia yakni Deddy Nur Palakka.

Pernyataan bernada sindiran tersebut secara khusus dialamatkan kepada pakar hukum tata negara Denny Indrayana di tengah derasnya polemik pencalonan wakil presiden.

ADVERTISEMENT

Politisi muda tersebut menyoroti rekam jejak gemilang Gibran Rakabuming Raka yang sukses mengamankan posisi orang nomor dua di Indonesia pada usia yang sangat belia.

Faktor pencapaian historis di mana usia kepemimpinan belum genap menginjak angka empat puluh tahun itu dinilai sebagai sebuah fenomena luar biasa dalam perpolitikan modern.

Tanggapan tajam dan penuh sindiran tersebut disampaikan ke ruang publik bertepatan pada hari Minggu tanggal 13 September 2026 yang lalu.

“Umur belum 40 tahun saja sudah jadi Wakil Presiden Republik Indonesia,” ujar Deddy, dikutip fajar.co.id, Minggu (13/9/2026).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa prestasi politik skala besar tersebut kerap kali memicu rasa tidak nyaman bagi sebagian pihak yang gemar melontarkan kritik.

Pihaknya lantas menantang para pengamat dan akademisi untuk berbesar hati menerima kenyataan konstelasi kekuasaan yang telah terbentuk secara sah melalui mekanisme konstitusi.

“Ini prestasi politik yang bikin banyak orang meriang,” tandasnya.

“Iyakan Dennyi Indrayana,” kuncinya.

Sebelumnya, pakar tata negara yang menjadi sasaran sindiran tersebut memang tengah gencar menyuarakan berbagai wacana kritis termasuk potensi evaluasi jabatan wakil presiden.

Dalam pandangan akademisnya, ia sempat mengupas dugaan beban etika yang mungkin dirasakan oleh kepala negara petahana dalam menyikapi berbagai gejolak hukum yang ada.

Keterikatan emosional serta sokongan politik masa lalu dari lingkaran kekuasaan sebelumnya dinilai membentuk dilema tersendiri dalam pengambilan keputusan strategis.

“Wajar jika Bapak Presiden Prabowo merasa tidak etis memperhentikan Gibran karena merasa berutang kemenangan dan kursi Presiden kepada Jokowi,” ujar Denny, dikutip fajar.co.id, Jumat (11/9/2026).

Meskipun demikian, berbagai perdebatan hukum dan adu argumentasi antar elite ini terus bergulir tanpa henti di tengah masyarakat luas.

Pertarungan narasi antara kelompok pendukung dan pihak pengkritik kian memperketat polarisasi opini publik menjelang tahapan-tahapan penting pemerintahan berikutnya.

Keluarnya pernyataan saling balas antartokoh politik ini memperlihatkan betapa rapuh sekaligus dinamisnya jalinan koalisi di bawah bayang-bayang warisan kekuasaan terdahulu.

Publik kini hanya bisa memantau sejauh mana benturan kepentingan antarelite ini akan bermuara pada stabilitas jangka panjang pemerintahan yang sedang berjalan. (*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung