Repelita Jakarta - Demonstrasi nasional bertajuk “No Kings” pada Sabtu 28 Maret 2026 menjadi salah satu aksi protes terbesar di Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir.
Lebih dari delapan juta orang turun ke jalan di seluruh 50 negara bagian dengan lebih dari tiga ribu titik aksi dari New York hingga Los Angeles dan Washington DC.
ADVERTISEMENT
Aksi damai ini merupakan gelombang ketiga gerakan No Kings yang menentang gaya kepemimpinan otoriter Presiden Donald Trump.
Massa membawa spanduk bertuliskan No Kings dan Democracy Has No Kings serta No War sebagai bentuk penolakan terhadap konsolidasi kekuasaan eksekutif.
Para demonstran menuntut penghentian perang dengan Iran penghentian deportasi massal oleh ICE serta penurunan biaya hidup termasuk harga bensin yang melonjak akibat konflik geopolitik.
Demonstrasi ini mendapat dukungan kuat dari kalangan Demokrat dengan kehadiran Senator Bernie Sanders Senator Elizabeth Warren Senator Ilhan Omar dan Gubernur Minnesota Tim Walz yang turut berpidato.
Senate Minority Leader Chuck Schumer menyebut aksi ini sebagai rekor partisipasi yang menunjukkan kemarahan publik terhadap kebijakan Trump.
Di sisi lain pihak Republik dan Gedung Putih mengecam demonstrasi tersebut dengan menyebutnya sebagai aksi kelompok kiri radikal yang memanfaatkan isu politik.
Hingga saat ini aksi No Kings berlangsung relatif damai meski pengamanan ketat diterapkan di beberapa ibu kota negara bagian.
Gerakan ini diperkirakan akan terus berlanjut dan menjadi momentum penting menjelang pemilu midterm Kongres pada November 2026.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok