Repelita [Jakarta] - Terdakwa perkara dugaan pencemaran nama baik terkait dokumen pendidikan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa, meluapkan amarahnya atas tuduhan yang menyebut dirinya lari dari arena perjuangan.
Melalui akun X pribadinya pada Sabtu (8/8/2026), figur publik ini menolak keras sebutan penakut usai dikabarkan memilih berdamai dan menyudahi kasus tersebut.
ADVERTISEMENT
"Jika saya mau berdamai dengan Joko Widodo, akan saya terima tawaran itu jauh-jauh hari," kata dokter Tifa, dikutip dari akun X pribadinya, Sabtu (8/8/2026) DokterTifa
Ia membocorkan adanya opsi penyelesaian perkara restorative justice yang datang bersama tawaran nilai finansial sangat tinggi.
"Saya buka transparan ini."
"Tawaran Restorative Justice kepada saya lengkap dengan paket Rp 50 M!" ujarnya.
"Apakah saya ambil?"
"Tidak!" tegasnya.
Dokter Tifa merasa heran terhadap tudingan miring publik yang menyerang konsistensi sikap politisnya.
"Lalu kalian masih bilang saya mundur, saya pengecut, saya pengkhianat."
"Bagaimana sih pikiran kalian?" katanya.
Dirinya menganggap langkah berpindah fokus ke ranah penelitian lain murni didasari atas diterimanya eksepsi oleh majelis hakim.
"Perjuangan saya selesai dengan eksepsi saya diterima dan saya bebas."
"Karena itu saya katakan: saya hijrah," tegasnya.
Perhatian risetnya kini bakal dicurahkan untuk merespons krisis kesehatan masyarakat global hingga eskalasi geopolitik.
"Ancaman kesehatan yang makin meledak, teknologi vaksin yang harus diawasi, senjata biologis yang menjadi bagian dari Perang Dunia III," ujarnya.
"Gangguan mental massal yang bikin banyak bunuh diri dan pembunuhan sadis, masalah geopolitik, sosial, kesejahteraan, status gizi buruk, angka infeksi yang meledak," katanya.
Ketika status bebasnya kembali terusik oleh panggilan proses hukum susulan, perlawanan resmi dipastikan terus berlanjut di pengadilan.
"Sekarang, ketika status bebas saya terancam dibatalkan, ya tentu saya harus melawan, dong," tegasnya.
Permohonan uji materiil diajukan sebagai benteng perlawanan atas dinamika penetapan status hukum terbarunya.
"Harus saya lawan dong."
"Dengan apa?"
"Ya dengan fasilitas hukum yang ada mulai dari praperadilan."
"Maka saya mengajukan praperadilan!" tegas Tifa.
"Diizinkan Mahkamah Agung maka insyaAllah Rabu, 12 Agustus 2026 saya berjuang lagi di sidang," katanya.
Dalam kesempatan itu, ia menyemprot para pendukung yang dinilai minim kontribusi nyata untuk menyokong biaya operasional perkaranya.
"Kalian bantu saya apa selama ini?"
"Beli buku saya kek."
"Borong buku biar saya tenang berjuang tanpa mikir dengan apa saya membiayai perjuangan ini," ujarnya.
Sindiran tajam diarahkan kepada pihak-pihak yang rajin mencemooh di ruang digital tanpa mau hadir memberikan pendampingan fisik.
"Jangan cuma jadi komentator bola di lapangan seakan jadi si paling berjuang," katanya.
"Bantu beli buku kagak."
"Datang temani saya bersidang kagak."
"Menghujat paling duluan," pungkasnya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok