Repelita [Jakarta] - Pegiat media sosial Dokter Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa mengungkap pengakuan mengejutkan terkait serangkaian tekanan berat yang dialaminya sepanjang Juni hingga Agustus 2026.
Melalui unggahan di akun X pribadinya pada 10/8/2026, Dokter Tifa mengklaim mendapat tindakan penganiayaan serta penzaliman yang memicu kerugian fisik dan batin luar biasa.
ADVERTISEMENT
Ia membeberkan adanya perlakuan mulai dari penangkapan, masa penahanan, proses pendakwaan, dugaan percobaan pembunuhan, hingga ancaman penyitaan hunian tinggalnya.
“Sebenarnya dalam bulan Juni hingga Agustus 2026, selain penangkapan, penahanan, upaya pembunuhan, pendakwaan, dan upaya perampasan dan penyitaan aset tempat kediaman, juga terjadi penganiayaan dan penzaliman dengan kerugian moril, materiil, lahir, dan bathin, tak tertanggungkan pada saya yang belum saya ceritakan pada anda semua, para Netizen,” tulis Tifa.
Sosok kritis tersebut berjanji bakal membeberkan secara mendalam mengenai kronologi rentetan peristiwa kelam tersebut dalam waktu dekat.
“Minggu ini, jika diizinkan Allah, saya akan konferensi pers tentang hal tersebut,” lanjut Tifa.
Kehebohan ini mengemuka di tengah berjalannya penanganan hukum yang masih membelitnya seputar kontroversi keabsahan dokumen pendidikan milik Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Sebelumnya pada unggahan video kanal YouTube Dokter Tifa Channel tanggal 7/8/2026, ia meluruskan persepsi publik bahwa langkah hijrah dari isu ijazah bukan berarti sebentuk kekalahan.
Peneliti tersebut menerangkan keputusannya mengalihkan fokus dari panggung umum diambil lantaran merasa tugas akademisnya mengkaji persoalan sejak 2022 telah usai.
Berbagai hasil penelitian telah ia bukukan dalam karya bertajuk Jokowi White Paper serta tulisan ilmiah bidang neuropolitik yang kini menanti publikasi internasional.
“Artinya, sebagai intelektual publik, sebagai ilmuwan, pekerjaan saya sudah selesai,” kata Tifa.
Kendati memilih surut dari riuh opini publik, ia menegaskan siap menghadapi seluruh persidangan yang dijadwalkan bergulir mulai 12 Agustus 2026 mendatang.
Gugatan praperadilan diposisikan sebagai wadah resmi untuk memaparkan seluruh temuan kajian demi membela diri di hadapan hakim.
“Sidang demi sidang akan terus saya jalani dengan penuh ketelitian, dengan penuh ketekunan bersama 27 advokat saya,” ujarnya.
Ia menampik keras tudingan mundur secara pengecut dari pertempuran gagasan yang selama ini dikawalnya.
“Jadi itu jadi sahabat Dr. Tifa semuanya, Anda jangan salah paham seakan-akan saya ini mengambil langkah seribu, melarikan diri dari gelanggang menjadi seorang pengecut. Bukan,” tegasnya.
Usai merampungkan fokus isu tersebut, dirinya bersiap meluncurkan buku anyar bertema Kontroversi Vaksin pada 17 Agustus 2026 mendatang.
Kini publik masih menantikan pembuktian serta rincian klaim dugaan penganiayaan dan ancaman pembunuhan yang rencananya dibongkar pada jumpa pers pekan ini. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok