Berita, Nasional

Dokter Tifa Sebut Status Terdakwa Ironi Bagi Ilmuwan Dan Eksperimen Terbesar Dalam Hidupnya Saya Sedang Mempertahankan Kehormatan

Repelita.id

30 August 2026 23:17 WIB

Dokter Tifa Sebut Status Terdakwa Ironi Bagi Ilmuwan Dan Eksperimen Terbesar Dalam Hidupnya Saya Sedang Mempertahankan Kehormatan
Foto: Istimewa

Repelita [Jakarta] - Pegiat media sosial sekaligus praktisi kesehatan Dr Tifauzia Tyasumma atau Dokter Tifa membeberkan pandangannya terkait dinamika hukum yang tengah menjerat dirinya sebagai terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis 27 Agustus 2026.

Proses persidangan tersebut merupakan pembacaan ulang surat dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum setelah berkas dakwaan awal dibatalkan serta dikembalikan oleh majelis hakim karena dinilai kurang cermat.

ADVERTISEMENT

Sebagai seorang akademisi dan ilmuwan yang terbiasa menguji hipotesis berbasis data ilmiah, Dokter Tifa merasa status terdakwa memberikan kontradiksi yang sangat besar dalam perjalanan hidupnya.

"Ada sebuah ironi besar ketika saya, seorang ilmuwan duduk di kursi terdakwa. Seumur hidup saya dilatih untuk menghadapi pertanyaan," ujar Tifa, dikutip Jumat (28/8/2026).

Berbagai pertanyaan kritis yang biasanya ia gunakan dalam penelitian ilmiah kini justru berbalik mencecar posisinya di dalam ruang sidang pengadilan.

"Mengapa? Apa buktinya? Bagaimana mekanismenya? Bisakah hipotesis itu diuji? Tetapi hari ini, pertanyaan itu diarahkan kepada saya," sebutnya.

Menurut pandangannya dari perspektif neurosains, posisi sebagai terdakwa tidak sekadar mengubah status di mata hukum, melainkan memicu tekanan biologis yang luar biasa pada respons otak manusia.

"Secara neurosains, menjadi terdakwa bukan sekadar perubahan status hukum, melainkan erubahan konteks biologis, otak berhadapan dengan ancaman, ketidakpastian, evaluasi sosial, dan kemungkinan konsekuensi besar dalam waktu yang bersamaan," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa mekanisme pertahanan diri akan aktif secara otomatis saat berada di bawah tekanan sosial serta incaran ancaman hukuman.

"Apa yang terjadi pada otak, tubuh, dan metabolisme? Sistem deteksi ancaman bekerja. Perhatian menjadi lebih waspada. Tubuh bersiap menghadapi tekanan," jelasnya.

Di saat yang sama, kemampuan berpikir rasional dituntut untuk tetap prima demi mencerna seluruh fakta dan materi pertanyaan yang diajukan dalam persidangan.

"Dan pada saat yang sama, korteks prefrontal dituntut tetap bekerja optimal, berpikir jernih, mengingat fakta, memahami pertanyaan, mengendalikan impuls, dan menyusun jawaban," lanjutnya.

Situasi tersebut dinilainya sebagai sebuah paradoks mendasar bagi seorang peneliti yang harus mempertahankan objektivitas di tengah kepungan intimidasi mental.

"Di sinilah paradoksnya. Otak yang sedang menghadapi ancaman justru diminta menghasilkan kejernihan intelektual," tuturnya.

Perbedaan mendasar dirasakan Dokter Tifa lantaran posisi seorang peneliti yang biasanya berada di luar objek amatan kini berbalik menjadi pihak yang diuji.

"Dan bagi seorang ilmuwan, tantangan itu menjadi lebih besar. Karena seorang ilmuwan terbiasa berdiri di luar objek penelitian," ucapnya.

Perubahan posisi tersebut memaksa dirinya untuk menata respons psikologis agar tetap sanggup melakukan evaluasi secara jernih.

"Mengamati. mengukur. menguji. mempertanyakan. Tetapi sekarang, dirinya sendirilah yang sedang diuji," katanya.

Persidangan yang dihadapi diakuinya bukan sekadar arena perdebatan pasal-pasal hukum, melainkan ajang pengujian ketahanan diri dan stabilitas emosional di tengah sorotan publik.

"Saya tidak lagi hanya berhadapan dengan persoalan hukum. Tetapi berhadapan meggunakan kapasitas intelektual dalam tekanan sosial yang luar biasa," ungkapnya.

Kemampuan mengontrol tingkat stres serta menjaga ketenangan dinilai menjadi kunci utama agar daya nalar tidak tergerus oleh luapan emosi.

"Maka ketenangan seorang ilmuwan yang menjadi terdakwa bukan sekadar persoalan keberanian," jelasnya.

Pengendalian emosi tersebut sangat krusial agar argumentasi pembelaan tetap berpijak pada fakta objektif dan bukan sekadar reaksi ketakutan.

"Melainkan bentuk pengendalian diri. Kemampuan untuk tidak membiarkan amarah mengambil alih penalaran. Kemampuan untuk tidak membiarkan ketakutan menggantikan argumentasi. Kemampuan untuk tetap membedakan antara persepsi, opini, bukti, dan fakta," timpalnya.

Dokter Tifa menegaskan tekadnya untuk meladeni seluruh rentetan proses hukum dengan memprioritaskan kekuatan logis dan validasi bukti.

"Tetapi ketika seluruh keadaan memaksanya kehilangan ketenangan, dan saya tetap memilih berpikir," tegasnya.

Ia meyakini pembelaan terbaik seorang akademisi di hadapan hukum tidak ditentukan oleh kerasnya suara, melainkan oleh kekuatan data ilmiah.

"Sebab pada akhirnya, sebagai ilmuwan saya tidak mempertahankan diri dengan suara yang paling keras," Tifa menuturkan.

Karakter dasar pengujian laboratorium tetap akan diterapkannya dalam merespons seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

" Tetapi mempertahankan diri dengan data, logika, konsistensi, dan keberanian untuk membiarkan setiap klaim diuji," tambahnya.

Ruang peradilan dianalogikannya sebagai arena penelitian baru yang menguji interaksi antarmanusia, berkas dokumen, serta kesaksian hukum.

"Ruang sidang menjadi laboratorium yang berbeda. Tidak ada mikroskop. Tidak ada tabung reaksi. Tidak ada papan tulis penuh persamaan," terangnya.

Dalam ruang sidang tersebut, semua fakta dan bukti material akan diuji kebenarannya secara terbuka.

"Yang ada adalah manusia, kesaksian, dokumen, bukti, argumentasi, dan hukum. Dan di tengah semuanya, kini saya duduk sebagai terdakwa," sambung dia.

Meskipun harus menduduki kursi terdakwa, ia menekankan bahwa status hukum tersebut sama sekali belum memvonis dirinya bersalah atas dugaan pidana.

"Bukan berarti saya telah terbukti bersalah. Terdakwa itu The Defendant," bebernya.

Ia bahkan memandang posisi terdakwa sebagai posisi yang terhormat karena memberikan hak konstitusional untuk membela kebenaran serta nama baiknya.

"Posisi terhormat karena saya sedang mempertahankan diri dari ancaman seseorang yang ingin memenjarakan saya karena ingin melindungi kejahatannya," ucapnya.

Langkah hukum yang ditempuhnya juga diniatkan untuk menjaga kehormatan serta masa depan keluarga dan anak-anaknya.

"Saya sedang mempertahankan kehormatan dan masa depan anak-anak saya. Maka tugas saya sekarang sederhana sekaligus sangat berat," katanya.

Fokus utamanya saat ini adalah menjaga akal sehat dan konsistensi berpikir hingga seluruh rangkaian pembuktian selesai dilaksanakan.

"Tetap waras dalam tekanan, tetap ilmiah dalam berpikir, tetap bermartabat dalam bersikap, dan membiarkan kebenaran diuji melalui proses pembuktian," tegasnya.

Dokter Tifa memaknai seluruh proses peradilan yang dijalaninya sebagai ujian terbesar bagi daya tahan dan integritas seorang ilmuwan di hadapan publik.

"Mungkin inilah eksperimen terbesar dalam hidup seorang Dokter Tifa. Bukan eksperimen terhadap tubuh manusia. Bukan eksperimen di laboratorium," ungkapnya.

Ujian tersebut mempertemukan aspek keilmuan, batas hukum, serta pertaruhan reputasi dalam satu momen krusial.

" Tetapi eksperimen terhadap ketahanan manusia ketika ilmu, hukum, reputasi, dan tekanan sosial bertemu dalam satu titik," lanjutnya.

Ia berharap publik dan sejarah kelak dapat menilai secara objektif bagaimana dirinya bersikap kokoh dalam mempertahankan prinsip kebenaran.

"Dan sejarah sering kali mengingat bukan hanya siapa yang pernah berada di kursi terdakwa. Tetapi bagaimana seseorang bersikap ketika berada di sana," tandasnya.

Perjuangan hukum tersebut diharapkan melahirkan keadilan nyata yang dicatat secara baik dalam perjalanan penegakan hukum di tanah air.

"Semoga sejarah kelak mencatat kisah saya dengan tinta yang wanginya seperti bunga," kuncinya.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung