Repelita Jakarta - Gelombang penguatan mata uang asing terhadap rupiah memicu kekhawatiran besar atas ketahanan keuangan negara yang kian menyusut.
Analis ekonomi politik dari Fine Institute, Kusviardi, menilai melonjaknya nilai dolar Amerika Serikat menempatkan instrumen APBN dalam posisi yang sangat rentan karena cadangan domestik terus terkuras untuk membiayai kebutuhan impor yang tinggi.
ADVERTISEMENT
Klaim sepihak mengenai lonjakan pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 5,61 persen dianggap sebagai narasi keliru yang mengaburkan bahaya riil di sektor finansial.
Otoritas fiskal dituding melakukan pembodohan terhadap diri sendiri dengan memamerkan angka tersebut ke hadapan publik, padahal laju ekspansi yang dibanggakan sama sekali tidak mencerminkan daya tahan moneter yang sesungguhnya.
Suntikan dana segar dalam bentuk bantuan sosial yang masif digulirkan pemerintah dikritik lantaran hanya menstimulus aktivitas konsumsi masyarakat tanpa menciptakan lapangan kerja baru yang produktif.
Kebijakan ini dianggap tidak akan mampu bertahan lama karena tidak memiliki basis perputaran modal yang sehat untuk mendongkrak penerimaan pajak negara yang kini justru merosot tajam.
"Pelemahan rupiah itu menjadi sangat rentan sejak ee nilai tukar rupiah dilepas ke pasar h nah itu terjadi di 9798 ya injeksi dari pemerintah nih heeh kalau enggak diinjeksi lagi gitu gimana konsumsinya ini kayak orang tua ngasih duit ke anak gitu loh iya kalau orang tuanya sudah enggak ngasih duit gimana gimana itu Pak MenQ enggak bisa kirim pesan yang ee serampangan ke masyarakat saya tentu menghargai ee cara komunikasi Pak Menteri yang cukup lugas dan bisa dipahami oleh publik tetapi menyederhanakan persoalan juga enggak boleh pertumbuhan ekonomi kita 5,61% lalu dipublish ya nomor dua di dunia nomor itu juga overclaiming yang menyesatkan yang ditipu tuh bukan siapa-sideapa pemerintah sedang menipu diri sendiri rakyat diri sendiri juga ya rakyatnya juga dong ketipu ya bukan rakyat ya ya kalau itu jelas ya tapi kan tanpa sadar pemerintah sedang menipu dirinya sendiri tumbuh kok ekonominya tapi siapa yang menciptakan pertumbuhan itu bagaimana pertumbuhan itu diciptakan bisa dan siapa yang tumbuh dan siapa yang tumbuh nah kalau dilihat dari kekayaan ternyata kan yang tumbuh yang cuman 10 orang terkaya itu ini kita sudah jebakan utang nih Deprap kita berhutang untuk memenuhi kewajiban utang yang jatuh tempo cicilan pokok dan bunganya nah itu yang menggerus perekonomian kita terus-menerus gitu ngeri ya ya ngerilah karena Pak Purbaya bilang APBN-nya aja survival mode oh iya berarti kita harus survival juga kita harus survival juga," tutur Kusviardi.
Kondisi ini semakin diperparah dengan ketergantungan pemerintah pada penarikan utang baru hanya demi melunasi kewajiban cicilan pokok serta bunga pinjaman yang telah jatuh tempo.
Akibat skema gali lubang tutup lubang yang destruktif ini, alokasi anggaran APBN dipaksa masuk ke dalam fase bertahan hidup dan berisiko gagal memenuhi hak dasar seluruh warga negara.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok