Repelita Jakarta - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, terlihat gencar melakukan safari politik dengan menemui sejumlah pejabat tinggi di Tanah Air sepanjang satu bulan terakhir, di mana agenda pertemuan tersebut mencakup tiga mantan presiden Republik Indonesia.
Pada Jumat, 3 April 2026, Boroujerdi menyambangi kediaman pribadi Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang berlokasi di kawasan Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dalam rangkaian kunjungan diplomatik yang cukup padat.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan kutipan dari akun media sosial resmi Kedutaan Besar Iran untuk Jakarta, jalannya pertemuan dengan SBY dilaporkan berlangsung dalam suasana yang penuh dengan kehangatan persahabatan serta saling pengertian di antara kedua belah pihak.
Sebelumnya pada Rabu, 1 April 2026, Dubes Boroujerdi juga sempat terbang ke Kota Solo untuk mengadakan pertemuan dan berbincang secara intensif dengan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo atau yang akrab disapa Jokowi.
Sementara itu, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri juga tidak luput dari agenda safari diplomatik tersebut, di mana pertemuan berlangsung di rumah pribadi sang mantan presiden di Jalan Teuku Ubar dalam sebuah acara halal bihalal pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Ketika ditanya oleh awak media mengenai alasan di balik safari politiknya menemui ketiga mantan presiden tersebut, Boroujerdi menjelaskan bahwa sosok-sosok yang ia jumpai sejatinya tidak terbatas pada mantan-mantan presiden saja.
"Saya bertemu dengan banyak pejabat di Indonesia dan di semua pertemuan itu saya memberikan laporan mengenai situasi terkini di Iran kepada mereka," ujar Boroujerdi dalam keterangannya di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, pada Sabtu, 11 April 2026.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa tidak hanya tokoh-tokoh politik papan atas yang menjadi target pertemuannya, melainkan juga para pemimpin organisasi masyarakat serta tokoh-tokoh organisasi budaya.
"Tujuan dari semua pertemuan itu adalah berterima kasih kepada mereka atas dukungannya terhadap Iran," kata Dubes Boroujerdi menjelaskan motif utama dari rangkaian kunjungan diplomatik tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, IDN Times kemudian melontarkan pertanyaan kepada Boroujerdi mengenai apakah sudah ada rencana untuk bertemu dengan Presiden petahana RI, Prabowo Subianto, yang direspons secara hati-hati dan diplomatis.
"Tentu merupakan sebuah kebanggaan bagi saya bila bertemu dengan Presiden Republik Indonesia saat ini, Bapak Prabowo dan jika Bapak Presiden memberikan kebanggaan kepada kami, maka saya rasa kami dapat bertemu Beliau," kata Boroujerdi menanggapi kemungkinan pertemuan dengan kepala pemerintahan Indonesia saat ini.
Di tengah manuver diplomatik tersebut, sikap politik Presiden Prabowo terkait geopolitik di kawasan Timur Tengah justru menuai kritik luas dari berbagai kalangan di Tanah Air.
Prabowo dinilai oleh para pengkritiknya tidak berani menyuarakan kecaman secara terbuka dan tegas kepada Amerika Serikat serta Israel pasca dilancarkannya serangan militer gabungan kedua negara tersebut terhadap Iran.
Padahal, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Iran sejatinya telah berlangsung cukup lama, yakni sudah menginjak usia 70 tahun sejak pertama kali dijalin.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo juga dianggap terlambat dalam menyampaikan ucapan belasungkawa atas gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel.
Sebagai perbandingan, ucapan duka cita justru lebih awal dikirimkan oleh Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri melalui surat yang dititipkan kepada Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, pada 3 Maret 2026.
Sementara itu, surat ucapan duka dari Presiden Prabowo atas gugurnya Ayatollah Khamenei baru disampaikan melalui perantaraan Menteri Luar Negeri Sugiono pada Rabu, 4 Maret 2026.
Dalam perkembangan terpisah, upaya Presiden Prabowo untuk menawarkan diri menjadi mediator dalam konflik antara Iran dengan AS dan Israel ternyata tidak membuahkan hasil yang positif.
Sebaliknya, Iran justru menyatakan ketertarikannya untuk memilih Pakistan sebagai negara perantara guna memediasi konflik militer yang sedang berkecamuk tersebut, sebuah fakta yang turut dibenarkan oleh Dubes Boroujerdi.
Boroujerdi kemudian menjelaskan alasan rasional di balik preferensi Iran terhadap Pakistan, yakni karena Perdana Menteri Shehbaz Sharif dinilai telah melakukan banyak upaya serius demi terciptanya gencatan senjata di wilayah konflik.
"Dari usaha yang dilakukan oleh Perdana Menteri ini, ditambah Pakistan berusaha meyakinkan kami dan lawan-lawan kami untuk bernegosiasi di Pakistan," kata Boroujerdi membeberkan pertimbangan negaranya.
Menurut laporan yang dirilis oleh media The Independent, proses pembicaraan damai yang digelar di Islamabad tidak terlepas dari relasi baik yang selama ini dimiliki Pakistan baik dengan pemerintah Teheran maupun dengan pemerintahan Washington.
Selain itu, terdapat banyak kepentingan besar yang dipertaruhkan oleh Pakistan dalam upayanya menghentikan serangan militer gabungan Israel dan AS yang menghantam wilayah Iran.
Sementara itu, harian The New York Times (NYT) melaporkan bahwa Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, telah tiba di Islamabad pada Sabtu, 11 April 2026, untuk memulai pembicaraan terkait rencana damai dengan delegasi Iran.
Kedatangan Vance di ibu kota Pakistan tersebut disambut langsung oleh jajaran pejabat tinggi pemerintah Pakistan sebagai bentuk penghormatan diplomatik.
Langkah Pakistan yang berhasil memediasi pertemuan antara Iran dengan AS dan Israel dinilai sebagai sebuah perkembangan positif oleh para pengamat hubungan internasional.
Pasalnya, kedua belah pihak yang sebelumnya berseteru secara terbuka tersebut akhirnya sepakat untuk melakukan masa gencatan senjata selama dua pekan terhitung sejak Selasa kemarin.
Meskipun demikian, masih banyak hal yang belum jelas dari skema pembicaraan damai yang berlangsung di Islamabad pada Sabtu tersebut, termasuk mekanisme negosiasi yang dipakai.
Salah satu pertanyaan besar yang masih menggantung adalah apakah proses negosiasi dilakukan secara langsung antara delegasi Iran dan perwakilan AS, ataukah seluruh proses tersebut semata-mata dilakukan melalui perantara Pakistan.
Delegasi negosiator dari pihak Iran sendiri dikabarkan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, serta didampingi oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok