Repelita Jakarta - Perbandingan tingkat penerimaan publik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Indonesia Prabowo Subianto menjadi bahan perbincangan di Threads.
Pembahasan itu bermula dari unggahan [@kinditive] yang menyebut Putin sebagai sosok yang disenangi banyak rakyat Rusia.
ADVERTISEMENT
Dalam unggahan tersebut, @kinditive menyinggung perolehan sekitar 87 persen suara yang diraih Putin dalam Pemilu Presiden Rusia 2024.
Angka tersebut kemudian dikaitkan dengan sejumlah kebijakan pemerintah Rusia yang disebut menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari bantuan keluarga dan anak hingga program perumahan.
Unggahan itu juga menyebut adanya kebijakan kenaikan upah minimum, penghargaan bagi pelajar berprestasi, perlindungan hutan, serta kompensasi bagi masyarakat yang menjadi korban bencana.
Perbandingan tersebut kemudian memunculkan beragam respons dari pengguna Threads yang mempertanyakan kondisi politik dan tingkat penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo di Indonesia.
Salah satu komentar datang dari [@rahardhi_jarvis] yang menuliskan: “Gak berharap bertukar tapi enyahkan yang sekarang tulung dah g ada otak”
Komentar lain disampaikan [@abduhjaved] yang merespons secara bernada candaan mengenai kemungkinan Prabowo ditukar dengan Putin.
Akun tersebut menulis: “Sy ikhlas dan rela wowo ditukar sama putin jadi presiden negeri Konoha .. masalahnya rakyat Rusia mau gak di kasih Wowo 😝🤣🤣🤣🤣🤣🤣”
Pertanyaan mengenai tingkat penerimaan masyarakat Indonesia terhadap Prabowo kemudian diajukan oleh [@topintanof] dalam rangkaian respons pada unggahan tersebut.
Akun itu mempertanyakan: “bagaimana dengan presiden Prabowo di indonesia saat ini. berapa persentase disenangi masyarakat Indonesia?”
Respons berikutnya datang dari [@meta.ai] yang menjelaskan bahwa angka kepuasan terhadap Prabowo dapat berbeda berdasarkan lembaga survei dan periode pengukurannya.
Dalam respons tersebut disebutkan bahwa tingkat kepuasan pada awal 2026 masih berada di angka 79,9 persen berdasarkan versi Indikator Politik Indonesia.
Sementara itu, sejumlah survei yang disebut dalam respons tersebut menunjukkan angka lebih rendah pada pertengahan hingga Agustus 2026.
SMRC pada Juli 2026 disebut mencatat angka kepuasan 51,1 persen, sedangkan ASI pada bulan yang sama mencatat 57,6 persen responden menyatakan puas.
Poltracking pada Agustus 2026 juga disebut mencatat tingkat kepuasan sebesar 55,1 persen.
Perbincangan kemudian beralih pada pertanyaan mengenai program pemerintahan Prabowo yang dinilai dapat dibandingkan dengan kebijakan yang disebut telah dijalankan Putin di Rusia.
Pertanyaan tersebut kembali disampaikan [@topintanof] dengan menanyakan program apa yang dianggap berhasil selama pemerintahan Prabowo di Indonesia.
Akun [@meta.ai] kemudian memberikan sejumlah contoh program yang dikaitkan dengan pemerintahan Prabowo.
Respons tersebut menyebut Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program dengan sasaran penerima hingga puluhan juta masyarakat.
Selain itu, disebut pula Sekolah Rakyat berasrama gratis, Kopdes Merah Putih, serta program Cek Kesehatan Gratis sebagai bagian dari kebijakan yang dinilai memiliki sasaran langsung kepada masyarakat.
Dalam respons tersebut juga dicantumkan bahwa program Makan Bergizi Gratis memiliki target 82,9 juta penerima hingga akhir 2025 dan disebut telah mencapai 4,8 juta penerima pada Juni 2025.
Sementara itu, Kopdes Merah Putih disebut memiliki sasaran 81 ribu koperasi, sedangkan Sekolah Rakyat disebut mulai berjalan pada tahun ajaran 2025/2026.
Untuk Rusia, kebijakan yang dibandingkan meliputi maternity capital atau bantuan keluarga dan anak, KPR dengan bunga khusus bersubsidi, kenaikan upah minimum, serta beasiswa penghargaan bagi pelajar.
Perbedaan utama yang disampaikan dalam perbincangan tersebut berkaitan dengan lamanya program berjalan dan dampaknya terhadap masyarakat.
Program-program yang dikaitkan dengan pemerintahan Putin disebut telah berlangsung selama 10 hingga 20 tahun, sedangkan sejumlah program pemerintahan Prabowo baru mulai diterapkan pada 2025.
Karena itu, perbandingan tingkat penerimaan publik terhadap kedua pemimpin tersebut perlu memperhatikan perbedaan sistem politik, periode pemerintahan, metode survei, serta karakter masing-masing program.
Angka 87 persen yang disebut dalam unggahan awal juga berada dalam konteks perolehan suara Pemilu Presiden Rusia 2024, sehingga tidak secara langsung dapat disamakan dengan angka kepuasan terhadap pemerintahan Prabowo yang berasal dari survei pada periode berbeda.
Perdebatan di Threads tersebut pada akhirnya memperlihatkan bagaimana angka elektoral, tingkat kepuasan publik, dan keberhasilan program pemerintah digunakan pengguna media sosial untuk membandingkan kepemimpinan Putin dengan Prabowo.
Perbedaan angka survei dan konteks pengukurannya menunjukkan bahwa setiap perbandingan tetap perlu dibaca berdasarkan sumber, periode, serta indikator yang digunakan agar tidak menghasilkan kesimpulan yang keliru.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok
View on Threads