Repelita [Jakarta] - Sikap bungkam mantan Presiden Joko Widodo atas spekulasi politik jelang Pemilu 2029 memicu sorotan tajam publik.
Kecenderungan untuk tidak memberikan tanggapan tersebut muncul sesudah beredarnya tayangan pidato Budi Arie Setiadi yang disampaikan tepat di sampingnya.
ADVERTISEMENT
Pengamat politik Erizal menilai keraguan dalam menyampaikan klarifikasi tersebut disebabkan oleh keterikatan posisi Jokowi yang berada di lokasi saat pidato berlangsung.
Langkah meminta maaf secara terbuka dinilai sangat sulit dilakukan oleh Jokowi mengingat rekam jejak kepemimpinannya selama ini.
Dalam konstelasi politik nasional, terdapat tiga pola baku yang lazim diterapkan oleh Jokowi dalam menghadapi krisis yang menyeret namanya.
Pola pertama adalah menyatakan tidak mengetahui persoalan, pola kedua berupa pengalihan tanggung jawab kepada pihak lain, serta pola ketiga yaitu memosisikan diri sebagai korban perlakuan tidak adil.
Ketiga strategi pertahanan politik tersebut tidak dapat diterapkan dalam menyikapi narasi percepatan pemilu yang dilontarkan mantan anak buahnya.
Jokowi mustahil mengklaim tidak tahu karena materi pidato tersebut diakui Budi Arie telah didiskusikan sebelumnya.
Sikap menyalahkan figur kuat di balik layar juga sukar dipakai sebab posisi pengarah politik utama mengarah pada dirinya sendiri.
Kondisi tersebut justru membuka ruang bagi pihak Prabowo Subianto untuk menerapkan narasi terintimidasi akibat manuver politik dari kalangan internal koalisi.
Ketidakmampuan merumuskan respons yang tepat menandai fase kritis perjalanan politik seseorang di mana setiap langkah yang diambil akan dinilai keliru oleh publik.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok