Berita, Internasional

FBI Atlanta Bongkar Jaringan Phising Global dari Indonesia, Kerugian Rp 342 Miliar

Repelita.id

15 April 2026 12:03 WIB

FBI Atlanta Bongkar Jaringan Phising Global dari Indonesia, Kerugian Rp 342 Miliar
Foto: Istimewa

Repelita Atlanta - Kantor Lapangan FBI di Atlanta berhasil membongkar sebuah jaringan penipuan siber global yang beroperasi dari Indonesia, dengan nilai kerugian mencapai lebih dari 20 juta dolar AS atau setara sekitar Rp 342 miliar.

Dalam operasi yang disebut sebagai investigasi siber gabungan pertama antara Amerika Serikat dan Indonesia, aparat keamanan kedua negara bekerja sama untuk menumpas kegiatan phishing canggih yang merugikan ribuan korban.

ADVERTISEMENT

"Dalam investigasi siber gabungan pertama yang sejenis, Kantor Lapangan FBI Atlanta dan otoritas penegak hukum Indonesia telah membongkar operasi phishing global yang canggih yang memungkinkan penjahat siber mencuri ribuan kredensial akun korban dan mencoba melakukan penipuan senilai lebih dari 20 juta dolar AS," demikian pengumuman resmi yang dimuat dalam laman FBI.

Penyidik federal di Atlanta mengungkapkan bahwa sindikat tersebut menggunakan sebuah perangkat lunak jahat yang dikenal dengan sebutan "kit W3LL", yang memungkinkan pelaku menciptakan halaman palsu yang sangat mirip dengan situs web terpercaya milik perusahaan besar.

Para korban yang tidak curiga kemudian memasukkan nama pengguna dan kata sandi mereka, yang secara otomatis menyerahkan akses penuh ke akun pribadi mereka kepada para penjahat siber.

Alat kejahatan tersebut bahkan memiliki kemampuan lebih lanjut untuk menangkap data sesi login, sehingga peretas dapat melewati sistem otentikasi multi-faktor dan tetap menguasai akun meskipun kata sandi telah diubah oleh pemiliknya.

"Ini bukan hanya phishing, ini adalah platform kejahatan siber layanan lengkap," ujar Agen Khusus FBI Atlanta, Marlo Graham, dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip dari hasil investigasi bersama.

Pihak berwenang menemukan bahwa kit W3LL tersebut dijual dengan harga sekitar 500 dolar AS per paket, dan didukung oleh sebuah pasar online gelap tempat para penjahat saling membeli serta menjual kredensial curian.

Antara tahun 2019 hingga 2023, lebih dari 25 ribu akun hasil curian telah diperdagangkan melalui platform ilegal tersebut, mencakup berbagai layanan digital dari korban di seluruh dunia.

Bahkan setelah pasar online tersebut berhasil ditutup oleh otoritas, kegiatan kriminal tetap berlanjut melalui aplikasi pesan terenkripsi yang sulit dilacak.

Pada periode 2023 hingga 2024 saja, skema penipuan ini berhasil menargetkan lebih dari 17 ribu korban baru dari berbagai negara, dengan total upaya pencurian melebihi angka 20 juta dolar AS.

Dengan bantuan dari Kantor Kejaksaan Amerika Serikat untuk Distrik Utara Georgia serta Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia, tim gabungan berhasil mengidentifikasi dan menyita bagian-bagian vital dari infrastruktur digital yang digunakan sindikat tersebut.

Pemerintah Indonesia juga bertindak tegas dengan menahan seseorang yang diduga sebagai pengembang utama di balik alat kejahatan siber ini, yang diidentifikasi dengan inisial G.L.

Para pejabat dari FBI menyatakan bahwa penutupan layanan ini telah berhasil memutus sumber daya utama yang selama ini dimanfaatkan oleh para penjahat siber di berbagai belahan dunia.

FBI secara khusus memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada mitra internasionalnya dari Indonesia, seraya menyebut kasus ini sebagai tonggak bersejarah dalam upaya lintas batas untuk memerangi kejahatan siber modern.

Kerja sama ini diharapkan dapat melindungi lebih banyak calon korban di masa depan serta memberikan efek jera bagi jaringan kejahatan siber lainnya yang masih beroperasi secara global.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung