Berita, Internasional

FBI Gelar Sayembara Rp3,2 Miliar Buru Monica Witt Eks Agen Amerika yang Membelot ke Iran

Repelita.id

16 May 2026 22:28 WIB

FBI Gelar Sayembara Rp3,2 Miliar Buru Monica Witt Eks Agen Amerika yang Membelot ke Iran
Foto: Istimewa

Repelita Washington - Aparat penegak hukum dari Biro Investigasi Federal Amerika Serikat kini tengah gencar memburu keberadaan Monica Witt yang merupakan mantan personel intelijen pertahanan domestik akibat keterlibatannya dalam aksi pembelotan ke pihak Iran.

Demi mendapatkan informasi akurat mengenai titik persembunyian sang pelarian, lembaga kontraintelijen barat tersebut bahkan sampai menggelar sayembara terbuka dengan menjanjikan imbalan finansial yang sangat besar yakni mencapai USD 200 ribu atau setara dengan Rp3,2 miliar.

ADVERTISEMENT

Figur wanita yang dulunya pernah mengemban tugas sebagai agen militer strategis ini dituding telah melakukan tindakan spionase berbahaya dengan menyuplai berbagai dokumen rahasia penting kepada pemerintah Teheran.

Berdasarkan keterangan resmi dari kantor lapangan otoritas penegak hukum di Washington pada Kamis, 14 Mei 2026, subjek hukum bersangkutan ditegaskan masih memegang status buron pasca dakwaan resmi dari dewan juri federal Distrik Columbia keluar sejak awal 2019 silam.

Sejumlah pasal dakwaan krusial kini membayangi langkah hukum pelaku termasuk keterlibatan aktif dalam aksi pencurian data keamanan serta pengiriman berkas pertahanan nasional secara ilegal kepada rezim asing.

Sebelum melakukan tindakan kontroversial tersebut, wanita ini tercatat memiliki rekam jejak sebagai pakar informasi pada kesatuan Angkatan Udara Amerika Serikat sekaligus memegang posisi agen khusus pada Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara.

Pengabdiannya pada korps militer bersenjata barat berlangsung selama kurang lebih sebelas tahun semenjak akhir dekade sembilan puluhan sebelum kemudian ia melanjutkan kariernya sebagai mitra kontraktor pemerintah federal hingga awal dua ribu sepuluh.

Kedudukan strategis yang dipegangnya selama bertahun-tahun memberikan keleluasaan penuh bagi dirinya untuk memegang dokumen rahasia tingkat tinggi yang mencakup data intelijen asing serta sistem pertahanan dalam negeri termasuk identitas asli dari para agen operasional di lapangan.

Akibat tingkat sensitivitas data yang berhasil dikuasainya, kasus pelarian ini dipandang oleh otoritas keamanan sebagai salah satu bentuk pengkhianatan paling serius dan berdampak masif yang melibatkan internal mata-mata Amerika dalam beberapa periode terakhir.

Pihak keamanan meyakini proses pelarian diri menuju wilayah Timur Tengah telah terjadi semenjak belasan tahun lalu dan sejak momen perpindahan tersebut dirinya disinyalir kuat mulai aktif memberikan berbagai dokumen strategis kepada pemerintah setempat.

Berdasarkan rincian berkas perkara hukum, tindakan pembelotan ini dinilai telah merusak skema pertahanan nasional serta menempatkan keselamatan fisik para personel lapangan beserta seluruh anggota keluarga mereka di luar negeri dalam risiko bahaya yang nyata.

Ia juga ditengarai ikut membantu badan siber asing dalam memetakan serta mengidentifikasi profil para mantan rekan kerjanya di birokrasi pemerintahan untuk dijadikan target operasi rekrutmen jaringan intelijen berikutnya.

Beberapa laporan investigasi media global menyebutkan bahwa para pejabat keamanan meyakini proses perekrutan sang agen oleh pihak asing sudah berjalan lancar jauh sebelum dirinya memutuskan untuk angkat kaki dari negara asalnya.

Setelah resmi mendarat dan menetap di wilayah yurisdiksi baru tersebut, sang buronan dikabarkan langsung menerima berbagai macam bentuk kompensasi eksklusif dari otoritas setempat yang meliputi penyediaan fasilitas tempat tinggal par excellence serta perangkat komputer mutakhir demi mendukung aktivitas siber.

Lembar penuntutan hukum federal juga ikut menyeret empat orang warga negara setempat yang dituding terlibat langsung dalam pusaran konspirasi percobaan peretasan sistem digital serta aksi pencurian identitas yang diperberat.

Fenomena hukum ini menjadi potret nyata bahwa persaingan keamanan antara kedua belah pihak tidak lagi sekadar berjalan melalui jalur siber dan meja diplomasi formal melainkan sudah menyasar pada infiltrasi elemen manusia di dalam institusi strategis.

Kasus pelarian politik ini sekaligus menjadi simbol dari eskalasi rivalitas keamanan yang kian meruncing di antara kedua yurisdiksi dalam satu dekade terakhir terutama dipicu oleh dinamika program nuklir regional serta konflik geopolitik Timur Tengah.

Langkah agresif dari biro investigasi yang berani menawarkan hadiah uang dalam jumlah fantastis mempertegas posisi sang pelarian sebagai target dengan status prioritas tertinggi dalam skema operasi kontraintelijen mereka.

Hingga saat ini, posisi koordinat pasti dari tempat pelarian wanita tersebut masih belum dapat diidentifikasi secara akurat oleh pihak berwenang namun dugaan kuat mengarah pada adanya perlindungan ketat dari jaringan internal Teheran.(*)

Editor: 91224 R-ID Elok

TAGS: #

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Berita Lainnya

Advertisement

Terpopuler

Statistik Pengunjung