Repelita Jakarta - Kritik keras kembali melayang kepada Badan Gizi Nasional usai jajaran pejabatnya dinilai melemparkan tudingan kepada pihak orang tua dan guru terkait maraknya kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis.
Pendakwah Ustaz Felix Siauw mendesak jajaran BGN serta pemerintah agar membuka diri terhadap masukan masyarakat dan tidak bersikap defensif ketika muncul masalah di lapangan.
ADVERTISEMENT
Felix Siauw menegaskan bahwa masukan serta keluhan yang disampaikan oleh kalangan pendidik maupun orang tua murid berlandaskan rasa kepedulian terhadap keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat.
"Kritik terhadap MBG bukan berarti kami anti-pemerintah, bukan berarti kami menolak program makan bergizi jika memang tepat sasaran serta tidak ada penyalahgunaan. Kita justru mengkritik karena yang penerima makanan tersebut adalah anak-anak kami," ujar Felix Siauw, dikutip Selasa (15/9/2026).
Ia menyayangkan kecenderungan pejabat publik yang dinilai lebih sibuk menyampaikan bantahan ketimbang membeberkan data evaluasi teknis secara transparan kepada publik.
Setiap temuan mengenai penurunan kualitas masakan, kebersihan bahan baku, hingga standar gizi seharusnya direspons dengan perbaikan nyata di lapangan.
Felix Siauw juga memperingatkan pemerintah agar tidak memutarbalikkan logika pengawasan publik dengan menyudutkan pihak yang menyuarakan keluhan.
"Jangan sampai logika pengawasan dibalik: ketika sistem dikritik, justru orang yang mengkritik yang dianggap sebagai sumber masalah. Kalau guru menyampaikan keluhan, dengarkan. Kalau orang tua mempertanyakan kualitas makanan, jawab dengan data. Kalau media memberitakan masalah, berikan klarifikasi yang transparan," tegasnya.
Pengawasan ketat dari masyarakat dipandang sebagai hak mutlak mengingat program nasional tersebut dibiayai menggunakan anggaran negara dan menyasar jutaan anak sekolah.
Sebagai solusi konkret, pemerintah didorong untuk berani menyetop sementara distribusi hidangan di titik-titik lokasi yang terbukti bermasalah guna audit kelayakan.
Langkah penghentian sementara tersebut dinilai sangat krusial demi mencegah jatuhnya korban keracunan yang lebih banyak di kemudian hari.
"Sebab yang harus dipertahankan bukan gengsi sebuah program, tetapi keselamatan anak-anak. Kami ingin MBG diperbaiki sebelum masalah yang kecil menjadi masalah besar," tambah Felix.
Ia menambahkan bahwa indikator pemerintah yang kuat diukur dari keberanian mengakui kekurangan serta membenahi kesalahan, bukan dari ketakutan menghadapi kritik publik.
Anak-anak sekolah tidak boleh dikorbankan demi pembelaan ego institusi maupun kepentingan pencitraan semata.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok