Repelita [Jakarta] - Citra satelit meteorologi pada Sabtu, 13 Juni 2026, menangkap pemandangan unik berupa sabuk awan raksasa yang membentang dari Sumatera hingga wilayah Australia.
Fenomena yang disebut pita awan frontal ini terbentuk akibat aktivitas depan dingin yang berinteraksi dengan sistem tekanan rendah di Samudra Hindia bagian selatan.
ADVERTISEMENT
Pertemuan massa udara dingin dari kutub dengan udara hangat tropis di Indonesia memicu proses kondensasi masif, menciptakan jalur awan sepanjang ribuan kilometer.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, khususnya bagi warga di Sumatra bagian selatan dan Pulau Jawa.
Masyarakat di daerah terdampak diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem, termasuk angin kencang dan sambaran petir yang disertai hujan.
Pada saat yang sama, siklon ekstratropis di selatan Australia turut menggeser konsentrasi kelembapan udara yang seharusnya terkumpul di wilayah Indonesia bagian barat.
Dampaknya, perkembangan awan hujan di beberapa daerah menjadi kurang maksimal sehingga intensitas curah hujan di Jawa Barat, Jawa Tengah, serta Yogyakarta cenderung bersifat lokal.
Sebaliknya, kawasan Indonesia timur menunjukkan dinamika atmosfer yang berbeda karena dipengaruhi oleh sirkulasi di dekat Filipina serta aliran angin dari Australia.
Perbedaan pola cuaca di barat dan timur Nusantara ini membuktikan bahwa mekanisme atmosfer tidak selalu bergerak secara seragam di seluruh wilayah Indonesia.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok