Repelita Jakarta - Politikus Ferdinand Hutahaean melontarkan sindiran menohok kepada Presiden ketujuh Joko Widodo menyusul putusan Mahkamah Konstitusi terkait perkara syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Ferdinand mengemas pandangannya dalam narasi kisah fiktif tentang sosok yang ia sebut sebagai raja palsu dari Oslo atau Solo yang tengah dilanda kegelisahan mendalam.
ADVERTISEMENT
Dalam kisahnya, ia menyebut sosok tersebut gelisah memikirkan nasib putranya yang kini menduduki kursi nomor dua di Nusantara setelah mengamati dinamika jelang putusan mahkamah.
"Ini adalah kisah tentang raja palsu dari Oslo (Solo). Dua hari menjelang mahkamah membacakan putusannya, raja palsu Oslo ini telah sangat gelisah di Jakarta dan berkali-kali mengajukan diri untuk bisa bertemu dengan penguasa Nusantara," ujar Ferdinand, Rabu (7/10/2026).
Ia menambahkan bahwa kegelisahan itu memuncak lantaran sang putra mahkota diduga sempat diabaikan dalam sebuah acara publik di kawasan ibu kota.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti momen perayaan hari ulang tahun TNI ketika figur yang ia sindir tersebut tertangkap kamera berada di belakang pimpinan tertinggi negara.
Situasi tersebut menurutnya memaksa pihak istana lama berupaya menemui penguasa saat ini demi menagih komitmen serta kejelasan situasi politik.
"Sang penguasa Nusantara dengan tenang dan berani, elegan menjawab semua kegelisahan sang raja palsu. Sang raja palsu tidak sadar kalau dirinya sedang mendapat hembusan angin segar dari Bukit Hambalang yang kemudian nanti angin segar itu berubah menjadi badai yang akan menenggelamkan perahu sang raja palsu Oslo," jelasnya.
Lebih lanjut, ia menghubungkan alur cerita tersebut dengan tudingan akumulasi kebohongan publik yang dilakukan bertahun-tahun hingga menurun ke generasi penerusnya.
Ia secara terbuka menyinggung polemik ijazah serta riwayat pendidikan luar negeri wakil presiden yang menjadi pokok sengketa hukum di persidangan konstitusi.
"Dan sialnya, gaya pembohong itu, karakter pembohong yang diturunkan kepada putra mahkotanya yang kemudian berbohong soal sekolahnya, soal ijazahnya yang ternyata tidak lulus dari sekolah di negeri orang. Inilah perbuatan yang sangat memalukan," timpalnya.
Di akhir penjelasannya, ia memprediksi bahwa lingkaran keluarga tersebut akan segera menghadapi kejatuhan politik sebagai bentuk sanksi sosial atas rangkaian kepalsuan yang dibangun.
"Tetapi sang raja palsu Oslo benar-benar ada karena dirinya palsu dengan ijazahnya, karena putra mahkotanya pun palsu dengan sekolahnya. Mereka penuh dengan kepalsuan dan kebohongan," kuncinya. (*)
Editor: 91224 R-ID Elok