Repelita Jakarta - Politikus senior sekaligus Founder Ferdinand Hutahaean and Co Law Firm Ferdinand Hutahaean menyatakan pesimismu terkait peluang Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam membahas wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul kembalinya perbincangan publik mengenai dokumen penyetaraan pendidikan Gibran pasca putusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana disiarkan melalui tayangan YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial pada Minggu, 11 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT
Ferdinand menilai bahwa komposisi kekuatan partai politik di parlemen saat ini menjadi faktor utama yang membuat upaya pemakzulan tersebut sulit untuk direalisasikan.
Menurut pandangannya, sebagian besar partai yang menduduki kursi parlemen merupakan bagian dari koalisi pendukung pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Kondisi konstelasi politik tersebut membuat para anggota dewan cenderung menghindari langkah ekstrem yang berpotensi mengganggu stabilitas jalannya pemerintahan nasional.
Ia mengaku banyak menerima pertanyaan dari masyarakat terkait peluang pembahasan pemberhentian Gibran dari kursi wakil presiden di gedung parlemen.
Menanggapi pertanyaan tersebut, ia secara terbuka meminta masyarakat agar tidak menaruh harapan besar terhadap langkah politik lembaga legislatif.
"Saya mau menjawab bahwa jangan pernah berharap bahwa DPR RI akan membahas tentang pemakzulan Gibran Raka Buming Raka dari jabatannya sebagai Wakil Presiden," ujar Ferdinand sebagaimana dikutip dari tayangan YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Ferdinand memaparkan alasan logis pertama yang mendasari keyakinannya bahwa partai koalisi pemerintah tidak akan mengambil risiko politik menjatuhkan Gibran demi menjaga kestabilan rezim Prabowo.
Ia menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto sendiri dipastikan tidak menginginkan situasi politik nasional yang gaduh dan mengganggu program kerja pemerintahan.
"Maka mereka tidak akan mungkin mengajukan pemakjulan Gibran karena tentu akan berdampak secara stabilitas politik kepada pemerintahan Prabowo Subianto," tukas Ferdinand dalam rekaman video YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial tertanggal 11 Oktober 2026.
Atas dasar pertimbangan kalkulasi politik tersebut, ia memperkirakan partai-partai pendukung pemerintah akan memilih mempertahankan status quo hingga masa jabatan Gibran tuntas pada 2029.
Namun, ia memprediksi secara tegas bahwa keberpihakan politik dan dukungan koalisi terhadap Gibran tidak akan berlanjut selepas periode kepemimpinan saat ini berakhir.
"Maka saya meyakini Koalisi Indonesia Maju akan memilih tidak memakjulkan Gibran, tetapi 2029 akan meninggalkan Gibran," tegas Ferdinand dalam kanal YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial hari Minggu, 11 Oktober 2026.
Selain faktor stabilitas, ia menilai para anggota dewan akan lebih mengutamakan sikap aman ketimbang mengambil risiko berhadapan langsung dengan arus ketegangan politik.
Pengalaman historis penyerbuan kediaman sejumlah politisi oleh massa masyarakat pada tahun-tahun sebelumnya diyakini menjadi pelajaran berharga bagi para legislator untuk berhati-hati.
"Bisa saja bukan Gibran yang jatuh tetapi anggota DPR yang jatuh duluan. Kita ingat tahun lalu bagaimana kediaman beberapa anggota DPR kita diserbu oleh masyarakat," ucap Ferdinand dalam siaran YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial tanggal 11 Oktober 2026.
Ia juga meragukan partai-partai politik yang berada di luar gerbong pemerintahan, seperti PDI Perjuangan dan PKS, akan berani mengambil tindakan konstitusional formal melalui Hak Menyatakan Pendapat.
Menurutnya, kritik tajam para elite politik di ruang publik sekadar wacana retorika tanpa pernah ditindaklanjuti dengan manuver gerakan parlemen yang nyata.
"Elitnya mungkin akan bicara, menyarankan Gibran mundur, tahu, malu, apa segala macam, tetapi secara gerakan politik tidak akan pernah mereka lakukan itu," jelas Ferdinand dalam platform YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Sebagai penutup, ia mengajak masyarakat untuk menjadikan polemik berkepanjangan ini sebagai pelajaran penting dalam menentukan arah pilihan kepemimpinan bangsa di masa depan.
"Jadi kepada masyarakat ini harus kita ambil pelajaran berharga. Kita petik ke depan apa yang bisa kita petik hal baik dari putusan mahkamah ini, yaitu kedepan memilih pemimpin janganlah pilih karena kesukaan personal kepada bapaknya, kepada ibunya, kepada pacarnya, kepada istrinya, kepada anaknya, jangan," pesan Ferdinand lewat tayangan YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial tertanggal 11 Oktober 2026.
Ia mengingatkan bahwa kelalaian dalam memilih pemimpin berisiko mendatangkan penderitaan panjang bagi rakyat akibat persoalan struktural yang menyertainya.
"Ini pelajaran penting bagi kita ke depan, masyarakat harus sadar politik, resiko memilih pemimpin yang masalah-masalah adalah penderitaan yang panjang," imbuhnya dalam rekaman YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial.
Ia menyimpulkan bahwa Gibran dipastikan dapat bertahan di posisinya hingga akhir masa bakti berkat kalkulasi pragmatis koalisi penguasa.
"Jadi, Gibran akan selamat sampai 2029, tetapi setelah itu akan ditinggal oleh Koalisi Indonesia Maju. Saya percaya," pungkas Ferdinand dalam siaran YouTube @FerdinandHutahaeanOfficial hari Minggu, 11 Oktober 2026.(*)
Editor: 91224 R-ID Elok