Repelita [Jakarta] - Pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi kepemimpinan Bank Indonesia secara mengejutkan memicu berbagai spekulasi di kalangan ekonom publik.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa surat perihal pengunduran diri tersebut telah resmi diterima oleh pihak pemerintah pusat.
ADVERTISEMENT
Presiden Prabowo Subianto disebut memberikan apresiasi serta penghargaan tinggi atas dedikasi Perry selama memimpin bank sentral kurang lebih tujuh tahun.
Pemerintah segera memproses penerbitan Keputusan Presiden terkait pemberhentian secara hormat pejabat tinggi keuangan negara tersebut sesuai prosedur berlaku.
Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditunjuk menjalankan tugas sebagai pejabat sementara guna mengisi kekosongan posisi strategis itu.
Analis pasar modal Ferry Latuhihin menduga mundurnya Perry tidak terlepas dari dinamika relasi dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Tekanan terhadap otoritas moneter disinyalir menguat seiring kebijakan pembiayaan defisit anggaran melalui pembelian Surat Berharga Negara secara masif.
"Senin pagi kemarin kita dikejutkan oleh berita mundurnya Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI," kata Ferry melalui kanal YouTube pribadinya.
"Rumor yang beredar, beliau dipaksa untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Banyak yang menduga, ini tidak terlepas figur Purbaya sebagai Menteri Keuangan."
"Kita tahu semua, di kalangan ekonom terus-menerus mendapat tekanan sejak Purbaya menjadi Menteri Keuangan."
"Itu kita lihat bagaimana BI membeli SBN dan mengeluarkan SRBI, itu tidak terlepas dari figur Purbaya yang ingin melakukan apa yang namanya deficit financing."
"Dengan kata lain, BI harus menjadi alat pemerintah. Ini sangat berbahaya sekali."
Ferry juga menyoroti dugaan ketegangan kebijakan moneter menyusul perbedaan pandangan dalam Rapat Dewan Gubernur mengenai stabilisasi suku bunga acuan.
Kebijakan mempertahankan level suku bunga dinilai sudah tepat demi menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah tanpa membebani sektor riil.
"Banyak juga yang mengatakan, bahwa ini pun tidak terlepas dari figur Purbaya yang ingin merebut posisi Gubernur BI dari Perry Warjiyo," tutur Ferry.
"Pada Rapat Dewan Gubernur lalu yang mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen, kabarnya terjadi dispute, perselisihan antara Perry dan Purbaya sebagai Menteri Keuangan."
"Kabarnya, Purbaya tidak setuju Perry Warjiyo mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen."
"Dari kacamata moneter, saya kira, apa yang dilakukan Pak Perry Warjiyo, mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen itu sudah tepat. Sebab, kalau BI-Rate dinaikkan ke 6 persen demi membela Rupiah, itu salah, karena ongkosnya adalah ongkos ekonomi," jelas Ferry.
"Ketika kondisi ekonomi kita tidak baik-baik saja, menaikkan suku bunga itu sama juga dengan bunuh diri. Jadi, memang tepat BI-Rate dipertahankan di 5,75 persen."
"Menurunkannya, saya rasa tidak tepat juga, sebab kalau BI-Rate diturunkan, itu akan menambah tekanan terhadap Rupiah menghadapi dollar."
"Jadi, memang keputusan yang tepat adalah mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen."
Di sisi lain, Destry Damayanti menegaskan bahwa pengunduran diri tersebut murni dilakukan atas dasar keputusan sukarela yang bersangkutan.
"Sudah jelas, sudah disampaikan tadi pagi oleh Pak Pras (Mensesneg) bahwa pengunduran diri dilakukan secara sukarela dan disampaikan kepada Presiden berdasarkan surat pada tanggal 25 Juli 2026. Mungkin itu saja yang bisa kami sampaikan ya," ujar Destry.
Proses penunjukan pejabat definitif selanjutnya akan mengikuti mekanisme perundang-undangan melalui pengajuan nama calon kepada Dewan Perwakilan Rakyat.(*).
Editor: 91224 R-ID Elok